Pertama Kali Kukenal Nama PRAMOEDYA

(catatan seorang pengagum)

Betapa yang namanya ingatan memang punya daya sihirnya sendiri.

Suatu masa sekitar 4 atau 5 tahun yang lalu pernah ada sebuah kios buku berdinding triplek di dekat gerbang timur kampusku, di seberang masjid Salman Bandung. Dan hanya beberapa langkah dari kios buku itu ada seorang pak tua penjual suling bambu yang menggelar dagangannya di bawah salah satu pohon besar yang ada di jalan itu. Pak tua bertopi hitam, penjual suling di dekat kios itu, hampir tiap hari aku melewatinya. Jauh sebelum kios buku itu ada, sejak masih di SMU kulihat ia sudah berjualan suling bambu di bawah pohon yang sama. Ya, di bawah pohon yang sama. Sambil berjalan sesekali aku menoleh padanya karena ada saatnya ia mencuri perhatianku ketika memainkan sulingnya dengan nada-nada yang terdengar merdu di telinga. Bisa dibilang hampir tiap hari aku lewat situ, pergi dan pulang kuliah.

Suatu hari saat akan masuk kampus lewat gerbang timur itu kali ini kios buku itu yang mencuri perhatianku. Di dinding luar tripleknya yang coklat polos tanpa cat itu terpasang poster besar bergambar 4 buah sampul buku dengan judul-judul aneh: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Seluruh tampilan sampul depan buku-buku itu dominan berwarna putih dengan gambar yang, jujur saja, kupikir kurang menarik. Rupanya itu poster penerbitan buku-buku novel karya seorang pengarang Indonesia bernama Pramoedya Ananta Toer.

Siapa pula Pramoedya Ananta Toer? Pengarang Indonesia? Tak pernah kudengar namanya meski hanya sayup, baik melalui kabar angin, desas-desus atau berita samar.

Selama 12 tahun bersekolah sejak 6 tahun di SD, 3 tahun di SMP dan terakhir 3 tahun di SMU, mestinya kalau memang dia pengarang Indonesia setidaknya namanya pasti pernah disebut dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Meski ingatan ini memang pendek, rasanya tak pernah kudengar seorang pengarang Indonesia dengan nama itu. Baru di kemudian hari kuketahui kenapa namanya tak pernah muncul dalam pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dulu. Dan bagiku namanya seperti tiba-tiba muncul dari batu atau jatuh dari langit. Pengarang macam apa pula yang menamai karyanya dengan judul-judul aneh macam itu. Ya, bagiku terasa aneh ketika itu. Bukan salah mataku yang hanya kebetulan saja melihat poster di kios triplek itu, toh aku hanya sekadar lewat. Hari-hari berikutnya poster itu masih saja terlihat tapi entah ada setan apa yang membuatku tak tertarik untuk menggubrisnya lebih jauh.

Lama setelah itu, suatu kali ketika seorang teman mengajakku melakukan kerja praktek di Jakarta tak kusangka-sangka ingatan itu bangkit lagi dari kuburnya. Pada suatu malam saat masih berada di kantor tempat kerja praktek, seorang pegawainya, surveyor yang baru kembali dari lapangan itu berkenalan denganku. Kantor sudah sepi. Selepas mengobrol sebentar tentang pekerjaannya ia pun duduk di pojok kursi itu sendirian. Sempat kulihat ia membuka tas ranselnya dan mengeluarkan sebuah buku yang sampul depannya membuatku ingat lagi akan poster itu. Ya, itu buku yang sama dengan yang pernah kulihat di poster kios triplek itu. Rupanya ia sedang melanjuntukan bacaannya yang belum selesai dan kelihatannya khidmat sekali ia membacanya. Aku jadi tak ingin menganggu ritualnya.

Sampai suatu hari pada tanggal serta bulan yang murni lenyap dari ingatan, seorang teman lain memberi kabar sewaktu mengobrol sedikit tentang buku-buku bacaan sebelum masuk ruang kuliah. Ada buku bagus, seru ceritanya, katanya saat itu. Bukunya Pramoedya, Bumi Manusia, tambahnya lagi. Oo, Pramoedya itu ya, sahutku yang langsung teringat poster itu dan pengalaman singkat di Jakarta. Buku tentang apa sih? tanyaku. Pokoknya bagus, katanya. Dan dia menceritakan sekilas tentang seorang tokoh dalam buku itu yang dengan hanya sekali pemunculannya sanggup mewarnai, menggubah seluruh bangunan cerita. Di kemudian hari kuketahui yang dia maksud adalah Herman Mellema, ayah Annelies. Pokoknya ceritanya bagus, katanya. Akhirnya karena tergoda kata-kata sabunnya itu aku pun minta untuk meminjamnya.

Dan esoknya sampailah Bumi Manusia itu di tanganku. Di rumah ketika membaca halaman-halaman awalnya aku merasa ini bukan buku yang terlalu menarik. Orang ini

bercerita dengan gaya bahasanya yang belum akrab di telinga batinku. Ditambah lagi ada beberapa kosakata yang masih belum benar-benar kupahami artinya. Tetapi kuteruskan juga membacanya. Dan setelah melewati beberapa halaman lagi sihirnya mulai terasa menghanyutkan kesadaranku, membius pelan-pelan. Aku mulai bisa mengikuti jalan ceritanya, asyik juga ternyata. Gaya bahasanya kuakui cukup unik, belum pernah kutemukan yang seperti ini. Maklum saja, sebelumnya aku memang lebih sering membaca non fiksi yang kering. Dan pada saat itu bacaaanku juga masih sedikit. Jam terbangku masih pendek di dunia bacaan.

Makin kuteruskan ceritanya kian membuatku hanyut. Aku seperti langsung terserap masuk ke dalam cerita. Ikut terlibat dan merasakan kejadian-kejadian di dalamnya. Dan yang lebih edan lagi, yang membuatku terkagum-kagum adalah karena dia menulis dalam bahasa Indonesia! Ya, bahasa negri sendiri. Tak pernah kutemukan sebelumnya buku atau tulisan bacaan berbahasa Indonesia yang seindah dan selezat ini bisa kunikmati. Ini benar-benar luar biasa edan, pikirku. Tak bisa lain ini memang karya sastra yang hebat gilang gemilang. Bukan roman picisan kelas kambing.

Alur ceritanya, gaya bahasanya, penggambaran karakter tokoh-tokohnya yang begitu memikat, dialog-dialognya yang mengalir hidup, bernas, cerdas luar biasa. Mengikuti

jalan ceritanya seperti menonton film saja rasanya. Tergambarkan seluruh apa yang ditulisnya dan kita bisa turut merasakan apa yang dipikirkan, dialami dan dirasakan tokoh-tokohnya. Sampai detik ini pun aku masih bisa merasakan sensasi ajaib yang bisa membuat jantungku berdegup dan berjingkrak ketika membaca: petir di siang bolong pun tak kan begitu mengagetkan. Dan aku pun masih bisa tersenyum geli ketika membayangkan kelucuan dalam bagian yang menceritakan bagaimana tokoh si Gendut lari tunggang langgang menyelamatkan diri. Darsam lari mengejar si Gendut. Minke lari mengejar Darsam. Annelies mengejar Minke. Dan Nyai mengejar Annelies anaknya. Ini benar-benar semacam adegan komedi dalam film.

Dengan berbagai kesibukan dan aktivitas kuliah maka Bumi Manusia yang setebal itu bisa kuselesaikan dalam 3 hari. Mungkin termasuk lamban untuk ukuran sebuah buku

sehebat Bumi Manusia. Maklum saja, sebelumnya tak pernah aku bisa melahap tuntas buku setebal itu hanya dalam waktu beberapa hari. Yang penting aku sangat menikmati setiap butiran mutiara dari huruf-hurufnya. Dan hari-hariku selanjutnya adalah seperti layaknya para pengagum Pramoedya yang lain: berburu buku-buku karyanya sampai membawaku ke seberang pulau di seberang lautan.

Kini pengarang besar itu sudah tiada. “Bab terakhir” yang dituliskannya untuk bangsa ini berujung pada 29 April 2006. Apa pun kata orang seputar kontroversi tentangnya, bagiku Pramoedya tetap seorang pengarang hebat yang pernah dimiliki bangsa ini. Ia sudah berikan semuanya: masa muda, tenaga, pikiran, perasaan, kesehatan bahkan umurnya untuk bangsa ini bahkan dunia ini. Namanya sudah sejajar dengan para pengarang dunia sekelas para peraih Nobel meski sampai detik terakhir hayatnya ia tak pernah diizinkan meraih penghargaan itu.

(Pandasurya ‘06)

2 thoughts on “Pertama Kali Kukenal Nama PRAMOEDYA

  1. sering urg baca sebuah buku hanya bermaksud mencari hiburan…(maklum atuh pelaut!)
    Tapi gara-gara Pram urang jadi makin kesulitan mencari buku yg menghibur.
    baru baca satu bab buku lain, ah males gak menarik…!

    ini sisi buruk pram buat urang,
    tp omong2 boleh dong pinjem bukunya hehe..

  2. Salam hormat,-
    – Mampir sejenak mungkin ada gunanya, bahasa bertutur
    menjadi kindung,menjadi ceritera melewati hari minggu
    bulan tahun berlalu, dari tulisan kita membaca, bahkan
    mendengarnya lebih awal, mulai lisan dan tanda sandinya
    TUL, jadilah tulisan membawa ruang jelajah mengukit rasa
    kedalam pikir,nalar,budi,pakarti,memasuki ruang waktu yang
    ditanam piranti oleh Maha Hidup, merambah ranah – ranah
    ketempat wujud juga yang tak dapat tergambar dalam
    kenyataan Hidup.-

    – Semoga jadi pedoman yang tak terukur dan mempunyai
    kemampuan dapat membatasi hitungan batas, menyangkut
    ruang waktu jelajah pikir, pada akhirnya akan sampai titik
    sebuah Anugerah Maha CIPTA RASA KARSA BUDI MULIA,-

    Amien, SELAMAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s