Matinya Koran Kertas?

(dimuat di Surat Pembaca harian Kompas Jabar, Selasa, 13 Juni 2006)


Orang zaman dulu mungkin tak pernah membayangkan bahwa kelak di masa depan semua orang di seluruh dunia bisa saling terhubung melalui apa yang sekarang kita sebut internet. Ilmu pengetahuan dan teknologi memang semakin banyak melahirkan keajaiban. Kini generasi “melek internet” di era digital sudah tiba. Seluruh dunia dapat mengawasi tingkah laku seseorang, dan orang dapat mengawasi tingkah laku seluruh dunia.

Sebuah artikel di Kompas 24 Mei 2006, mengabarkan bahwa Rupert Murdoch si “raja media” dunia asal Australia itu telah melebarkan sayap bisnisnya ke dunia on-line dengan membeli situs blog MySpace. Pemilik News Corporation ini seolah memberi isyarat kepada segenap penduduk bumi bahwa sudah tiba zamannya orang dapat mengawasi tingkah laku seluruh dunia dan sebaliknya.

Kabar dari artikel itu bisa diartikan bahwa dalam beberapa dekade ke depan boleh jadi orang tak perlu lagi membaca koran kertas dan media cetak lainnya. Majalah, tabloid, jurnal, dan sebangsanya bakal gugur permisi satu per satu dari peredaran. Percetakan-percetakan koran, majalah bakalan tutup, absen untuk selamanya. Percaya atau tidak, tanda-tanda itu sudah nampak di depan mata lewat kehadiran internet.

Di masa depan boleh dipastikan akan semakin banyak penduduk dunia yang tinggal di kota-kota besar bakal terhubung lewat internet. Dunia itu akan hadir melalui sebuah alat, mungkin seperti laptop sekarang, yang bisa dibawa ke mana pun kita mau. Di rumah, di kafe, di mobil, di kereta, atau di toilet sekalipun orang bisa saling terhubung lewat internet. Kita bisa berkomunikasi dengan siapa pun, bertatap muka, dan berbicara lewat layar laptop itu.

Setiap orang bisa mengetahui pula apa yang sedang terjadi di dunia, di belahan bumi mana pun. Setiap orang bisa mewartakan pada dunia apa yang baru saja dialami, dilihat dan didengarnya. Kita bisa membayangkan, nanti akan ada kamera di tempat-tempat umum, layanan publik, seperti di jalanan, mal, stasiun, terminal, termasuk di kuburan. Semua kamera itu terhubung ke internet dan setiap orang di seluruh dunia bisa mengakses dan melihatnya melalui layar laptop yang ada di hadapannya.

Disadari atau tidak semua proses ini sedang berlangsung di era digital. Pada akhirnya, masyarakat yang selalu berharap dahaga informasinya terpuaskan akan mengerti bahwa cepat atau lambat proses itu berlangsung tentu tak luput dari pertimbangan-pertimbangan ekonomi, strategi bisnis, dan politik yang dijalankan oleh para pebisnis media dan juga pihak yang punya kuasa. Apa boleh buat, masa depan memang tidak lagi berupa daun lontar berisi ramalan, tapi sudah berupa rancangan dengan sederet kepentingan.

Pandasurya Wijaya

Padasuka, Bandung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s