Ada yang lebih dari

sekelam apa pun hidupmu,
ada yang lebih leluasa dari pagi.
malam namanya.

segetir apa pun nafasmu,
ada yang lebih tenggelam dari malam.
angan namanya.

sedalam apa pun anganmu,
ada yang lebih malam dari gelap.
terang namanya.

seberat apa pun matamu,
ada yang lebih luas dari langit.
kasur namanya.

seluas apa pun malammu,
ada yang lebih mewah dari waktu.
tidur selamanya.

tidurlah, an.

separah apa pun lukamu,
ada yang lebih ringan dari kapas.
pikiran namanya.

dan seringan apa pun langkahmu
ada yang lebih berat dari hari.
pikiran namanya.

di sana, sejauh pandangan mata,
ada yang lebih jernih dari mataair.
airmata namanya.

dan di sini, di dalam sini
ada yang lebih tenang dari danau.
sentuhan namanya.

(Maret-April 2012)

Rekam Jejak Ingatan

Selepas maghrib menjelang malam waktu itu. Jalanan sudah gelap. Lampu-lampu rumah dan jalanan mulai bersinar berpendar. Di perjalanan angkot menuju travel untuk kembali ke “kota maklum” tiba-tiba hujan turun cukup deras. Dan dengan terdorong suasana hujan malam di perjalanan yang sepi dan terasa mellow karena berat meninggalkan rumah dan teringat padanya, pada kisah beberapa malam sebelumnya, kata-kata ini melintas di kepalamu dan terus mengiang,

“rintik hujan seperti berlari”

Dari kaca depan angkot itu kaupandangi hujan deras yang mengguyur, lampu jalanan dan lampu kendaraan yang melaju tampak mengabur disiram hujan. Dan selanjutnya bait kedua pun lahir,

“lampu jalanan basah
berpacu mengabur diri”

Dan setelah travel berangkat pun hujan deras makin menjadi. Kata-kata itu masih juga terus mengiang, ”rintik hujan seperti berlari..” Dari balik kaca, melihat ke arah jalanan di luar sana, kata-kata di sudut hati membisiki,

“hujan ini sederas sunyi
tak ada jalan kembali”

dan sebagai penutup adalah ingatan puisi masa lalu.

***

rintik hujan seperti berlari
lampu jalanan basah
berpacu mengabur diri

hujan ini sederas sunyi
tak ada jalan kembali

malam ini kau cantik sekali
seperti hening pagi

(Perjalanan Bandung-Jkt, Mei 2011)

Pagi Ini Seperti Pagi Yang Lain

Pagi ini seperti pagi yang lain
Kita akan bercerita tentang hari-hari yang berlalu
tanpa sedikit pun getar dalam hati

Sore itu kau berdiri di sana
menatap kosong ke arah jalanan yang basah
selepas hujan bulan Juli

“Jalanan seperti kaca,” katamu
“Orang-orang lalu-lalang, bergegas, begitu saja
silih berganti, datang dan pergi,
tanpa pernah bercermin
tanpa getar dalam hati

Dan tak seorang pun berani bertanya
untuk apa kita ada di dunia..”

“Mungkin sepi,” jawabku seadanya

Lalu kau berkata lagi,
“Pernahkah kau merasa
tidak pernah merasa..
Kosong..
seperti lagu Monty Tiwa*?”

*Download Mp3 “Kosong” by Monty Tiwa

Lirik lagu “Kosong” by Monty Tiwa

-baca selanjutnya->