Pada Suatu Hari yang Tak Mungkin

Pada suatu hari yang tak mungkin
Setelah menempuh perjalanan jauh ke dalam batin
Kita berdua ‘kan duduk di sini
Di tepi telaga ini
Dilingkupi angin segar pagi hari
Dan hijau pepohonan menemani

Tapi karena jarak,
Ya, karena jarak
Kita terpisahkan berjauhan
Kau di seberang telaga sana
Aku di seberang sini
Namun tak ada jarak batin di antara kita

Lalu kita ‘kan saling bertatapan dalam diam
Seperti yang kau inginkan
Tapi kita tau, batin kita berbicara dalam seribu bahasa
Yang seluruhnya hanya bermuara pada satu makna:
Kata orang itu “cinta”
Atau prasangka belaka?
Atau bukan keduanya?

Kita berbincang panjang tentang kehidupan
Tentang dunia yang rawan, dan
negeri di atas awan
yang langitnya berhiaskan bintang-bintang
Matahari dan pelangi selalu setia menemani
Juga hujan, seperti yang kau inginkan

“Hidup adalah bagian terbaik dari mati*,” katamu lirih
Aku mengangguk tanda mengerti, seraya menimpali dalam hati,
“Dan kau adalah bagian terbaik dari mimpi*”

Pada suatu hari yang tak mungkin
Kita berdua kan duduk di sini
Di tepi telaga ini
Dan kali ini
kau ada di sampingku
kepalamu bersandar di bahuku

sementara bumi hanyalah sebutir debu di telapak kaki kita..**

(Oktober’09)

* Puisi Isma Sawitri, Selendang Pelangi h.38
**Perahu Kertas,Dee. h.312

Obrolan Matahari & Pelangi di Bumi Malam Hari..

Hai, N, howdy..
Biar kumulai tulisan ini langsung saja ya. Tanpa basa-basi ala obat nyamuk lagi.

Dari suatu obrolan di dunia maya suatu kali kau pernah bilang, kira-kira begini:
“Hei, suatu saat nanti tampaknya kita harus bertemu untuk minum kopi dan membahas soal Jakarta ini..”
Aku tertawa. “Ya kurasa memang perlu,” jawabku. “Aku sangat menantikannya.”
Kontan kau langsung berkata,
“Masalahnya, lo nyasar gaak??”
Sekali lagi aku tertawa. Kupikir tadinya itu hanya obrolan bercanda. Tapi nyatanya kau serius, N, lebih serius dari aku. Dan aku pun begitu akhirnya. Apa boleh buat. Kau sendiri yang bilang, di balik semua tampilan luarmu, kau adalah orang yang serius. *izinkan aku tertawa di sini, maaf*

Baiklah, N, genderang perang sudah ditabuh. Tak ada istilah mundur atau lari dari gelanggang. Aku pun setuju bertemu. Pemicunya sederhana: karena kita tak mau bergeming dengan pendapat masing-masing soal Jakarta (serius kali kita ini..hihihi). Tapi karena ini memang bukan perang sungguhan, tak ada derap pasukan yang ikut serta ke medan pertempuran.

***
“Ke roti bakar eddy yuk,” katamu di obrolan dunia maya setelah itu.
“Di al azhar ya?” tanyaku.
“Blkg al azhar blok m”
“Terkenal katanya ya”
“Iya, asik sih bt nongkrong. Rame, n murah2..”
Maka medan pertemuan pun sepertinya sudah ditentukan. Tanpa perlu rapat komisi dan ketuk palu. Aku setuju saja meski lokasi persisnya belum sepenuhnya terpetakan di kepalaku. Maklum.

Tapi sejujurnya aku sendiri masih belum yakin soal pertemuan ini. Kupikir rencana ini hanya bagian dari obrolan dunia maya yang penuh canda-tawa, kadang bercampur sedikit duka-luka alias curcol (curhat colongan). Maka aku pun sedikit ambil ancang-ancang:

-baca selanjutnya

Tahun Baru, Siklus Waktu

“Tak ada yang benar-benar baru di bawah langit yang sama…”

breguet_image691591

Tahun Baru baru saja berlalu. Tahun 2009 sudah berjalan. Tiga hari sebelum Tahun Baru 1 Januari umat Islam juga melewati Tahun Baru 1 Muharam. Ada dua tahun baru dalam seminggu. Tahun baru Islam dan Tahun baru Masehi. Yang pertama adalah tahun baru berdasarkan peredaran bulan mengelilingi bumi. Dan yang kedua adalah tahun baru berdasarkan peredaran bumi mengelilingi matahari. Peristiwa yang jarang terjadi dari dua perhitungan benda langit yang berbeda, matahari dan bulan.

Tapi kedua Tahun Baru itu sama-sama berdasarkan perhitungan benda langit yang berputar. Dan kehidupan memang seperti lingkaran. Kehidupan berputar, waktu berganti, tapi semua akan kembali ke titik awal permulaan. Setiap perjalanan, setiap titian waktu yang kita jalani sehari-hari, detik demi detik, menit ke menit, jam demi jam, berganti hari, kemudian bulan, lalu tahun, semua kembali ke titik awal lingkaran. Ada yang lahir, tumbuh, dan akhirnya semua akan mati. Apa yang berasal dari tanah akan kembali ke tanah. Siklus Kehidupan. Siklus Kematian.

Seperti kisah dalam sebuah film Korea, Spring, Summer, Fall, Winter and Spring (2003). Film yang minim kata tapi kaya makna ini berkisah tentang seorang biksu Buddha yang mengasuh muridnya sejak kecil hingga dewasa. Hingga akhirnya sang murid pun menggantikan peran gurunya mengasuh kembali seorang anak kecil. Persis seperti judul filmnya yang menggambarkan siklus waktu 4 musim.

-baca selanjutnya