Praktis & Gak Praktis

Mari bicara soal praktis dan gak praktis.

Praktis adalah ketika kau tidak mempertanyakan apa-apa terhadap situasi atau keadaan yang ada di sekelilingmu, segala apa yang kau lihat, dengar, rasakan, dan alami. Praktis adalah ketika kau hanya sekadar hidup menjalani tanpa mempertanyakan/mempertimbangkan/memikirkan sejumlah hal, banyak hal dalam hidup. Bahkan keberadaanmu sendiri.

Dan gak praktis adalah kebalikan dari semua itu.

Ketika untuk berpikir pun kau harus berpikir dulu maka kau sudah jadi orang gak praktis. Ketika kau harus memilah-milah terlebih dulu apa yang akan kau pikirkan maka artinya kau sudah bukan orang praktis.

Selamat datang, kawan, selamat bergabung di dunia orang-orang yang tidak praktis..

Terkadang memang ada enaknya jadi orang yang tidak tau apa-apa.
Setidaknya jadilah orang yang tau bahwa dirimu tidak tau apa-apa..

Bangku Taman

di suatu senja tak berangin
dua orang kawan lama bertemu tak sengaja
setelah sekian lama tak berjumpa
sebuah bangku taman jadi saksi perjumpaan
perbincangan pun digelar :
kisah klasik tentang garis nasib yang berlainan
satu preman,  satu lagi bajingan

oldbench1600wl0

perbincangan berlangsung lama tanpa jeda
tak terasa waktu mengalir ke ujung senja
matahari beranjak tenggelam segera berganti bulan
hari mulai malam
perbincangan memasuki “injury time”

sebagai muara percakapan,
pertanyaan pamungkas dilayangkan,
“Ngomong-ngomong, kau masih percaya Tuhan, Jon?
“Maaf, bukan maksudku bila menyinggung perasaanmu”,
seorang di antara mereka bertanya penasaran.
Nada suaranya sendu, bergelimang ragu.
si Jon yang ditanya diam saja. Tak ada jawaban keluar dari mulutnya.
angin mati. alam membisu.

setelah hening menunggu, bening suara pun lahir,
si Jon menjawab,
“Kau tahu apa yang paling menakutkan dalam hidup?”
pada kawannya dia justru balik bertanya
(rupanya kodrat pertanyaan memang melahirkan pertanyaan)

-baca selanjutnya

Kenapa Membaca Sastra?

open bookDi suatu masa, entah kapan dan di mana
Seseorang mungkin akan bertanya kepadamu,
“Kenapa dirimu membaca sastra?”

Dan inilah jawabmu:
“Karena sastra, yang pertama dan utama, memberi pelajaran tentang hidup
Pelajaran yang tak didapat di ruang-ruang kelas mana pun

Karena sastra adalah seni
Seni bercerita, seni kata, gaya bahasa, pilihan kata,
cara pengungkapan penuh makna

Karena sastra bisa mengetuk pintu hati untuk sampai pada kesadaran
Kesadaran tentang hidup dan kehidupan, tentang kenyataan
tentang ketulusan
tentang diri dan orang lain
tentang kemanusiaan dan dunia
tentang alam semesta, Tuhan dan cinta
dari bilik sunyi hingga ke kedalaman samudra
dari gelapnya rimba belantara hingga ke batas cakrawala

Karena sastra juga berarti menata hati dan pikiran,
segenap panca indra, jiwa dan raga
Karena sastra memberi hati pada duka luka
pada kepedihan, penderitaan dan kebahagiaan
Karena sastra menerbitkan tangis dalam tawa

Selalu ada masanya sastra bisa memberi rasa
bagi mereka yang mati rasa
atau sekadar mencoba berdamai dengan rasa hampa
karena sastra memberi cahaya

Karena sastra menyentuh relung jiwa, menginspirasi sanubari

Dan karena sastra memberi getar pada hidup..”

(Jakarta, Mei-Agustus’09)