Pulang
Hamparan sawah
basah
tiang listrik di luar jendela
petir di luar sana
Berapa lama sampai ke surga?
What if God was one of us?
Just a stranger on the bus
Trying to make his way home..*
(Desember’07, di Bus, Jkt-Bdg)
Pagi ini seperti pagi yang lain
Kita akan bercerita tentang hari-hari yang berlalu
tanpa sedikit pun getar dalam hati
Sore itu kau berdiri di sana
menatap kosong ke arah jalanan yang basah
selepas hujan bulan Juli
“Jalanan seperti kaca,” katamu
“Orang-orang lalu-lalang, bergegas, begitu saja
silih berganti, datang dan pergi,
tanpa pernah bercermin
tanpa getar dalam hati
Dan tak seorang pun berani bertanya
untuk apa kita ada di dunia..”
“Mungkin sepi,” jawabku seadanya
Lalu kau berkata lagi,
“Pernahkah kau merasa
tidak pernah merasa..
Kosong..
seperti lagu Monty Tiwa*?”
“Itu hampa..,” jawabku
“Tapi coba lihat ke sana,” katamu lagi
“Di luar sana dunia masih luas terbentang
Terkadang memang, hidup hanyalah persoalan
menjalani hari demi hari
Berdamai dengan situasi
meski masih tanpa getar dalam hati”
“Ada kalanya perutmu bergejolak
seperti samudera*, katamu
“Ada kalanya hatimu berkecamuk
seperti badai,” jawabku
..
“Bukankah sesuatu yang memberi arti
tidak pasti mendatangkan nasi?”**
Pagi ini seperti pagi yang lain
Orang-orang berlalu tanpa pernah bercermin
(Juli, dua ribu lapan)
**kata-kata dari Uncle Iroh di film Avatar
*** kutipan M. Sunjaya
Surga-Neraka
Langit itu Sore, kawan
Malam Itu Bintang
Kita berdiri di sini
Tanpa pernah tahu
ke mana Nasib akan mengalun
Mungkin ke surga
mungkin ke neraka
atau tidak keduanya
Manusia berusaha, katamu
Tapi Tuhan mengecewakan
(April ’08)
Tsotsi
Hari mulai petang
ketika kau bertanya kepadaku:
benarkah “hanya yang paling kejam
yang bisa sejahtera”?
Aku tahu kau sedang bicara tentang Tsotsi
Mereka yang hidup di garis ekstrim
hanya dengan 2 pilihan:
Membunuh atau Dibunuh
Mereka yang renungannya adalah kegelapan
Mereka yang akrab dengan kehampaan
“Nyawa itu murah, kawan,
pistol dan pisau berkuasa di malam hari,”
kata Nelson Mandela tentang negerinya
Kukatakan kepadamu
Mereka benar dalam segalanya, dalam apa adanya
dan mereka akan dengan senang hati
menjawab pertanyaanmu dengan darah
“Hanya yang Paling Kejam yang bisa Sejahtera..”
(Maret, ’08)
Kenyataan Hari Ini
Tak pernah memadai untuk sekadar disesali
Tangis dan tawa lahir terlalu pagi
Di sini
Di bawah langit yang sama
Kemanusiaan bertanya-tanya:
Di mana tempat kita di dunia?
(Sept ’06, Ramadhan)
Hening Pagi
Jauh di ujung sana,
di antara rimbun daun pepohonan
ada 2 jalan kehidupan:
Yang satu ramai dilalui orang
Yang lain hanya sepi ditumbuhi ilalang
Perjalanan panjang melelahkan
ke dalam diri tak bertepi
di mana air mata jadi doa
ketika sepi melampaui arti
(Okt ’06, Ramadhan-Nov ’06)
Dari Lubuk Hati
Matahari, bulan, bintang, kemarin, esok, sampai hari ini
Semua masa lalu yang akan datang dan pergi,
juga gunung, laut, jalan setapak pepohonan,
tanah dan sungai air mata kan bercerita tentang
segaris nasib, sejumput harapan, belajar dari kesia-siaan,
juga riwayat, sejarah, kadang gelap kadang terang
seperti pagi
yang terbit dari lubuk hati
(Sept-Nov ’06)
Banjir
Jangan menangis, nak
Jangan tambahkan derasnya banjir ini
dengan derasnya air matamu
(Feb ’07)
Sebaris Pagar
Sebaris
pagar kayu yang lapuk, miring, rombeng
ujungnya patah rebah ke tanah
diremuk zaman
Sebaris pagar dari kayu
tadinya tegak di tanah kering retak
kini rapuh layu
kerontang dipanggang matahari
Sebaris pagar, segaris batas, segurat nasib
kita di sini, engkau di sana
di mana mereka?
Di TV dan koran
orang-orang bicara soal pemerataan dan harapan
Adakah perubahan bisa dimulai dari sebaris pagar?
(November 2006)
Sungai Mutiara
Pernah suatu kali
seorang artis ibukota nan cantik jelita
datang ke sebuah desa terpencil nan luhur dan mulia
di sanalah ia mendapat pengalaman seharga mutiara
“jangan gunakan sabun, sampo dan odol
saat sedang di sungai,” kata seorang warga desa
“kenapa memangnya?,” sang artis bertanya tanpa dosa
“kasihan, Neng, nanti orang kota tak bisa minum dan memakai air
karena airnya sudah kotor,” jawab si warga desa polos nan lugu
sang artis pun berpaling tersipu malu
mengangguk ia tanda mengerti, terpana dalam hati
tak terasa matanya sudah berkaca-kaca
berkaca-kaca
(Juli 2006)
Sore itu
Ketika untuk pertama kalinya kau memunguti sisa-sisa dari puing-puing rumahmu
Aku masih ingat, kau pernah bercerita tentang pelukan terakhir seorang ayah pada anaknya di tengah kecamuk perang yang melanda sebuah desa nun jauh di sana, di seberang benua
Bukan, bukan pelukan terakhir itu yang membuatku teringat akan ceritamu, tapi pesan terakhir sang ayah pada anaknya yang masih terngiang dalam ingatanku:
“Selama kau di medan juang
ingatlah, nak
Langit itu luas
Langit itu untuk semua orang,
termasuk mereka yang tidak percaya Tuhan”
(Agustus 2006)
Kita belum mati
Banjir datang
Menerjang dan menerjang
Pukulan pertama
Harga-harga menggila
Melambung tak terjangkau
Pukulan kedua
BBM jadi makhluk paling langka
Mau masak apa?
Pukulan ketiga
Ini pesan bagi kehidupan:
Kita belum mati
(Feb ’07)
Mungkin perang adalah seperti
seorang prajurit yang menatap
temannya gemetar meregang nyawa
dalam pelukan di pangkuannya
atau mungkin tidak selalu seperti itu
mungkin perang adalah seperti sebuah ungkapan
yang ditulis di tembok kusam:
And when he gets to heaven
to Saint Peter he will tell:
“Just another soldier reporting, sir
I’ve served my time in hell”*
Mungkin perang memang ada dalam diri manusia
Seperti Plato yang bersabda,
“Hanya mereka yang mati
telah melihat akhir perang”
(Juli 2006)
*kutipan dari foto James Natcwey
di majalah Time Dec ’03- Jan’04
Arisan VS Taktik Dagang
Ya, mungkin saja selama ini kau benar
Semua orang terlahir ke dunia tanpa pernah menyadari
bahwa dirinya sempat menggoreskan tandatangan
pada selembar formulir kehidupan
Lalu entah di mana di suatu tempat (kita tak pernah tahu)
tiap lembar formulir itu dilipat dan digulung kecil-kecil
kemudian ditenggelamkan ke dasar cawan untuk diundi:
siapa yang namanya muncul dialah yang setor nyawa duluan
cukup adil bukan?
Lantas kau akan bilang-seperti juga orang lain akan bilang–,
ternyata hidup tak lebih dari sekadar arisan kematian
tiap orang pasti dapat giliran
entah esok, lusa atau sekarang
tak perlu cemas, kawan
sebenarnya ini bukan arisan
juga bukan lotere atau undian picisan
Ini murni taktik dagang:
ketik nama spasi jawaban kirim ke…
1001 malam
(April+Juni 2006)
Bandung
Ini Bandung kota tua, Tuan
Terlalu tua untuk berkaca pada kenyataan
Terlalu senja untuk merenungi kebisingan
Di hening Cisangkuy
pohon-pohon tua merintih pelan
Lirih serupa gumam
Dan orang-orang lalu lalang seperti biasanya
Tanpa desir dalam dada
Seperti tak merasakan apa-apa
Mungkin Tuan akan bertanya,
Ada apa dengan Bandung hari ini?
Di sela kesibukan Asia Afrika
Di tengah keramaian Merdeka
Orang-orang menanam impian di sudut jalan
Wajah-wajah melintas
menatap dingin
Dan ini Bandung yang gelisah
tak sempat damai dengan ramai
Bukan sepi, memang
Hanya timbunan harapan setengah tiang
(Sept ’05)
Puisi ‘Banjir’ Oks bgt..
Jadi terharu bacanya…
puistis juga ya.. thanks for ‘komen-nya.. betul kok rangkuman kutipannya capingnya GM.
da puisi lo bagus2,…
banjir….okeh deh,
mengingatkan si kecil banziro, yang lahir di tengah banjir…sayang gak jadi pake nama itu
Arisan Vs Taktik dagang : Selamat dijual oleh mimpi,,,
singkat namun padat. ” Banjir “
*DARI LUBUK HATI*
sejarah, kadang gelap kadang terang
seperti pagi
yang terbit dari lubuk hati…..
(Menyentuh&Menginspirasikan)
mantap-mantap… puisinya bro..
sederhana tp dalam makna…!!