Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Masih Puisiku’ Category

Pada suatu hari yang tak mungkin
Setelah menempuh perjalanan jauh ke dalam batin
Kita berdua ‘kan duduk di sini
Di tepi telaga ini
Dilingkupi angin segar pagi hari
Dan hijau pepohonan menemani
Tapi karena jarak,
Ya, karena jarak
Kita terpisahkan berjauhan
Kau di seberang telaga sana
Aku di seberang sini
Namun tak ada jarak batin di antara kita
Lalu kita ‘kan saling bertatapan dalam diam
Seperti yang kau [...]

Read Full Post »

Hari belum lagi siang
ketika kabar itu datang
“Mbah Surip dipanggil tuhan
karena tuhan juga butuh hiburan”
Oh ya? Kata siapa?
Kata malaikat di pintu gerbang
“Tuhan juga pengen digendong sama mbah Surip”, katanya
bener toh? mantep toh?
Bahkan tuhan pun butuh dihibur sama Mbah Surip
Bahkan tuhan pun pengen digendong sama Mbah Surip
Maka kalau ada yang bertanya
apa arti bahagia sebenarnya?
ingatlah sosoknya yang [...]

Read Full Post »

di suatu senja tak berangin
dua orang kawan lama bertemu tak sengaja
setelah sekian lama tak berjumpa
sebuah bangku taman jadi saksi perjumpaan
perbincangan pun digelar :
kisah klasik tentang garis nasib yang berlainan
satu preman,  satu lagi bajingan

perbincangan berlangsung lama tanpa jeda
tak terasa waktu mengalir ke ujung senja
matahari beranjak tenggelam segera berganti bulan
hari mulai malam
perbincangan memasuki “injury time”
sebagai muara percakapan,
pertanyaan [...]

Read Full Post »

Di suatu masa, entah kapan dan di mana
Seseorang mungkin akan bertanya kepadamu,
“Kenapa dirimu membaca sastra?”
Dan inilah jawabmu:
“Karena sastra, yang pertama dan utama, memberi pelajaran tentang hidup
Pelajaran yang tak didapat di ruang-ruang kelas mana pun
Karena sastra adalah seni
Seni bercerita, seni kata, gaya bahasa, pilihan kata,
cara pengungkapan penuh makna
Karena sastra bisa mengetuk pintu hati untuk sampai pada [...]

Read Full Post »

Kasihan deh Endonesa..

Kesimpulannya jelas, sejelas matahari di siang bolong:
Media massa boleh hiruk pikuk
Politisi makin busuk
Koalisi partai boleh ramai
Capres dan cawapres tebar pesona
Tapi rakyat?
Rakyat tak peduli itu semua
Karena mereka muak dan kecewa
Angka 49,6 juta golput adalah bukti nyata
Ya, pada akhirnya Pemilu mengajarkan pada kita
“Apa arti kecewa yang sebenarnya”
Kasihan deh Endonesa..
(Jakarta, Mei’09)

Read Full Post »

Langit Jakarta

Pernah sekali kulihat
Matahari begitu bulat, merah menyala
di atas langit Jakarta
Sore waktu itu
dan angin begitu kencang
meniup segala-gala
bukan cuma sampah atau polusi
tapi juga angan-angan, impian
dan harapan banyak orang
berjuta-juta orang kalah
dikalahkan kenyataan
dijajah keinginan
mengais recehan
mengais kehidupan
kata orang: penjara pikiran
penjara abadi
ilusi
imajinasi
(Mei’08-Mar’09)

Read Full Post »

Tanah Air

Seingatku, suatu kali Pramoedya pernah bilang,
“karena kau lahir, tumbuh, hidup dan bekerja di sini
–tanah airmu,
kau juga makan dan minum dari tanah negerimu,
dan kelak kau pun mungkin akan mati terbaring di tanah ini
–tanah tumpah darahmu,
maka itu sudah lebih dari cukup sebagai alasan
untuk mencintai negerimu..”
(Nov’08)

Read Full Post »

Sjahrir (Nusantara)

Lalu Sjahrir berdiri di atas kapal
di tengah lautan perak bercahaya
matanya menerawang jauh                              ke batas cakrawala
Ia merenungi nusantara
Dan sedjarah akan menulis, disana :
diantara benua asia dan benua Australia
antara lautan teduh dan lautan Indonesia,
adalah hidup satu bangsa yang mula-mula mentjoba
untuk hidup kembali sebagai bangsa
achirnja kembali mentjadi satu kuli diantara bangsa-bangsa
–kembali mentjadi een natie van koelis,
en een koelis [...]

Read Full Post »

Hari Pendidikan

Ini hari pendidikan memang
Mungkin benar
Pohon berguru pada batu
Bunga mekar belajar dari akar
Serupa harapan di waktu samar
Dan air langit akan bertemu tanah
Setelah itu becek
Jalanan licin
Sungai kan meluap
Banjir pun tumpah
Dan anak-anak akan berangkat ke sekolah
dengan berenang
berenang menyeberangi sungai masa depan
(Mei ‘07)

Read Full Post »

Mungkin Pramoedya pernah membayangkan:
Kartini duduk terdiam merenung
Dalam renungannya ia dengarkan suara humanis Multatuli:
“Tugas manusia adalah menjadi manusia…”
(April-Sept ‘06)

Read Full Post »

Older Posts »