Pada suatu hari yang tak mungkin
Setelah menempuh perjalanan jauh ke dalam batin
Kita berdua ‘kan duduk di sini
Di tepi telaga ini
Dilingkupi angin segar pagi hari
Dan hijau pepohonan menemani
Tapi karena jarak,
Ya, karena jarak
Kita terpisahkan berjauhan
Kau di seberang telaga sana
Aku di seberang sini
Namun tak ada jarak batin di antara kita
Lalu kita ‘kan saling bertatapan dalam diam
Seperti yang kau inginkan
Tapi kita tau, batin kita berbicara dalam seribu bahasa
Yang seluruhnya hanya bermuara pada satu makna:
Kata orang itu “cinta”
Atau prasangka belaka?
Atau bukan keduanya?
Kita berbincang panjang tentang kehidupan
Tentang dunia yang rawan, dan
negeri di atas awan
yang langitnya berhiaskan bintang-bintang
Matahari dan pelangi selalu setia menemani
Juga hujan, seperti yang kau inginkan
“Hidup adalah bagian terbaik dari mati*,” katamu lirih
Aku mengangguk tanda mengerti, seraya menimpali dalam hati,
“Dan kau adalah bagian terbaik dari mimpi*”
Pada suatu hari yang tak mungkin
Kita berdua kan duduk di sini
Di tepi telaga ini
Dan kali ini
kau ada di sampingku
kepalamu bersandar di bahuku
sementara bumi hanyalah sebutir debu di telapak kaki kita..**
(Oktober’09)
* Puisi Isma Sawitri, Selendang Pelangi h.38
**Perahu Kertas,Dee. h.312






