Hai, L, howdy..
Biar kumulai tulisan ini langsung saja ya. Tanpa basa-basi ala obat nyamuk lagi.
Dari suatu obrolan di dunia maya suatu kali kau pernah bilang, kira-kira begini:
“Hei, suatu saat nanti tampaknya kita harus bertemu untuk minum kopi dan membahas soal Jakarta ini..”
Aku tertawa. “Ya kurasa memang perlu,” jawabku. “Aku sangat menantikannya.”
Kontan kau langsung berkata,
“Masalahnya, lo nyasar gaak??”
Sekali lagi aku tertawa. Kupikir tadinya itu hanya obrolan bercanda. Tapi nyatanya kau serius, I, lebih serius dari aku. Dan aku pun begitu akhirnya. Apa boleh buat. Kau sendiri yang bilang, di balik semua tampilan luarmu, kau adalah orang yang serius. *izinkan aku tertawa di sini, maaf*
Baiklah, L, genderang perang sudah ditabuh. Tak ada istilah mundur atau lari dari gelanggang. Aku pun setuju bertemu. Pemicunya sederhana: karena kita tak mau bergeming dengan pendapat masing-masing soal Jakarta (serius kali kita ini..hihihi). Tapi karena ini memang bukan perang sungguhan, tak ada derap pasukan yang ikut serta ke medan pertempuran.
***
“Ke roti bakar eddy yuk,” katamu di obrolan dunia maya setelah itu.
“Di al azhar ya?” tanyaku.
“Blkg al azhar blok m”
“Terkenal katanya ya”
“Iya, asik sih bt nongkrong. Rame, n murah2..”
Maka medan pertemuan pun sepertinya sudah ditentukan. Tanpa perlu rapat komisi dan ketuk palu. Aku setuju saja meski lokasi persisnya belum sepenuhnya terpetakan di kepalaku. Maklum.
Tapi sejujurnya aku sendiri masih belum yakin soal pertemuan ini. Kupikir rencana ini hanya bagian dari obrolan dunia maya yang penuh canda-tawa, kadang bercampur sedikit duka-luka alias curcol (curhat colongan). Maka aku pun sedikit ambil ancang-ancang:
“Emang beneran serius mo jadi?” tanyaku meyakinkan diri.
Dan jawaban yang kuterima adalah:
“Kpn gw gak serius tuuh..”
“Errr..kapan, di mana?,” tanyaku lagi.
Kali ini kau tertawa, durjana kurasa..*geli ngliat panda shock*
“Haha, kl lo ga siap ktm gw hr ini..Hr rabu jg gpp..”
“Hr rabu..di mana? jam?”
“Yah, td kan gw dah usulan lokasi..”
“Blok m? Di mana nya?
“RBE td ya?”
“Gw ga tau tempat persisnya. Klo blok m nya gw tau”
“Liat jalur buswaymu. Sblm blok m ada al azhar”
“R U sure bout this ‘meeting’?,” tanyaku sekali lagi, mencoba meyakinkan diri.
“I mean just the 2 of us? U and Me? Me and U?”
“Bth penggembira? Gpp gw undang..Gw sih ga mslh, yg pntg ga sendirian. Apa enaknya miting sndri. Eh, kl lo mslh, gw ajk yg lain ya? (brgkli lo takut dicela2 gw tanpa sekutu)”
“Klo emang emansisapi..ga perlu bawa2 sekutu segala..,” sahutku.
“Bnraann? Ga tkt garing? Check, kamis gw d tnh abg, ga jd d isuzu kbn jeruk, jd kyknya rabu aja ya?”
“Errr..fine..”
“No allies rite? Ok. Deal. Eh, gw kl mo ngajak sih, bs mcm2..Kan gw eventmaker..
“I know..but i think this time we dont need allies rite?”
“No allies ya? Ok.”
“Oki doki.”
“Yg dtg blkgn nraktir minum.”
Maka jadilah di hari 020909 yang naas itu, di hari yang membuat banyak orang panik dan pilu—karena bumi yang kita pijak bergetar hebat—kita bertemu. Ya, ibukota diguncang gempa sore itu. Dan setelah melalui perjalanan berliku, penuh saat-saat menunggu bercampur bimbang dan ragu—karena sore itu jalanan mendadak super padat nyaris buntu—kita bertemu, kau dan aku. Dua makhluk yang saling kenal karena komunitas pelahap buku di dunia maya.
Aku tak tau, L, di belahan bumi mana lagi ada saat-saat menjengkelkan seperti sore itu. Tapi bagiku pribadi saat itu juga adalah saat pembuktian diri. Pembuktian apakah kita menyerah kalah pada keadaan yang membelenggu atau tetap tabah bertahan dan terus maju. Sekali maju perut, pantat mundur, katanya..ups..Dan hasilnya? Kita berdua tau, kita tidak menyerah, I, tidak sejengkal pun, tidak malam itu dan semoga tidak di lain waktu, tidak di kehidupan lain. Bukankah ini juga secuil kebanggaan yang barangkali bisa diceritakan pada anak-cucu kelak? (Emang kita bakal setua apa ya?)
Kau boleh saja menyebut pertemuan kita itu kopdar atau kopi darat. Aku menyebutnya cetdar, ceting darat. Terdengar aneh? Memang. Seandainya kita minum kopi malam itu maka bolehlah pertemuan itu disebut kopdar, tapi kita tidak minum kopi malam itu. Aku minum jus alpukat dan air mineral, kau menenggak ovaltine dan lemon tea. Tak ada kopi. Apalagi bir, tuak atau temulawak.
Dan tidak seperti semboyan negeri jiran Malingsia yang katanya “Bersekutu tambah mutu”, kita pun sebelumnya mengikat janji—tidak sehidup-semati tentu—bahwa tak seorang pun yang akan membawa sekutu untuk mengintimidasi lawan bicara, dalam bentuk apa pun.
Jadi, terserah mau kau sebut apa pertemuan kita malam itu, L? It was not a date, I guess..or maybe it was? Whatever..or maybe U don’t even think about it..sorry..
***
Dari Jl. Panjang kumulai perjalananku dengan busway. Saat itu jam 16.30 lewat. Jalanan sudah mulai padat. Sesampainya di Grogol para penumpang harus transit untuk melanjutkan ke Harmoni. Tunggu punya tunggu sejak jam 17.00 lewat busway yang diharapkan tak kunjung datang. Waktu mendekati maghrib, hampir buka puasa. Apa boleh buat, aku berbuka dengan air mineral yang sengaja kubawa. Hingga melewati jam 18.00 busway yang diharapkan masih juga belum nongol. Efek guncangan gempa di ibukota membuat orang-orang ingin bergegas pulang, makin memacetkan jalanan, membuat busway tak kunjung datang.
Ini bakalan seperti kisah drama lakon “Waiting for Godot,” pikirku. Menunggu yang takkan pernah datang, judulnya. Kesabaranku tinggal setetes..sementara waktu terus memburu. Aku melompat dari halte, menyebrang jalan sambil melangkah gagah dan tenang di bawah tatapan penumpang lain yang makin bete menunggu di halte. Setelah sampai di seberang jalan, seperti sudah dikomando, sebuah taksi langsung datang menghampiri. Kubuka pintu dan masuk. Lega rasanya. Sempat kulihat sekilas tatapan mereka masih mengikutiku hingga taksi berlalu. Aku puas rasanya. Makan tuh busway!
Harmoni, here I come..
***
Kalau ada kontes antrian manusia terpanjang untuk menaiki sebuah bus, rasanya bolehlah halte busway Harmoni ini jadi juaranya. Kau tau lirik lagu Dewi “Dee” Lestari yang satu itu, L? “Malaikat juga tau Harmoni yang jadi juaranyaaa…“
Antrian gilaa sepanjang jalan kenangan yang berdesakan itu membuatku berkeringat di Jakarta yang panas. Saat itulah keraguan datang tanpa diundang. Teruskan atau tidak?
-Gw msh d harmoni. Antriannya gilaa..yakin mo terus? (18:34)
+Nt kl gw dah nyampe dukuh atas gw kbri ya? apa gw k harmoni aja deh..(18:44)
-I hate 2 say this: I think 2day is a wrong day tp gw ga rela nyerah gt aj:-p tp gw jg ga enak bkin lo balik malem..jd dilematis:-p ay lop jkt..(18:46)
+Tanggung lo udh stgh jalan. Gw ga enak jg nih. Gw jg blm dpt bis (18:48)
Orang-orang berwajah lelah terus berdiri antri berdesakan demi sampai ke tujuan masing-masing. Tujuanku sendiri sudah jelas: halte Al-Azhar. Dan setelah 4 busway berlalu akhirnya tiba juga giliranku masuk busway. Kali ini kredo zaman ujian yang katanya “posisi menentukan prestasi” tak berlaku di sini. Aku mengambil posisi dekat pintu karena busway memang sudah penuh seperti 4 busway sebelumnya.
-Gw udh d busway. Otw alazhar. Hehe:-p c’mon wanna give up?:-p (18:56)
+Of course not!! Walo bus gw blum dtg2!:-p (18:58)
Di belakangku berdiri seorang pria bule berambut pirang tipis, berpakaian rapi sambil memegang tas. Tingginya? Lebih pendek dariku tentu saja. Kira-kira setelah hampir setengah perjalanan kudengar si bule berbicara dengan seseorang di hapenya. Dari bahasanya aku tau dia berbicara Perancis. Maklum aku sempat 5 tahun di sana..jualan kerupuk..(boong bangeedd)
-gw udh lwtin dukuh atas..nana..nanana..:-p (19:08)
Jam 19:19 aku tiba lebih dulu di halte mesjid agung Al-azhar. Setelah menunggu beberapa menit akhirnya kuputuskan lebih enak menunggu di gerbang mesjid Al-Azhar sambil duduk menenggak bir dan tuak sepuasnya di Jakarta yang panas. Err..Baiklah, kau tak percaya apa yang kuminum, L? Tampangku mungkin terlalu lugu, polos, dan imut untuk seorang pemabuk ya. Air mineral, L. Yang kuminum itu air mineral sejuta umat. Aqua mereknya. Puas?
+Ok, bus gw msh blm bs masuk dukuh atas neeh…;) da*n, mct aja disini! Jalur busway gituuh.. Lets talk ‘bout Jakarta next..(19:22)
-Hihihi..itulah yg jd ksimpulan akhir gw slama ini: trkadang antara sabar, (maap) bego, & mati rasa itu tipis bgt bedanya..:-p (19:30)
+Yak, antrian gw dah 5 bis lg smp dukuh atas..Mo ktemuan ama elo aja sampe seJakarta dibikin macet..I Love this city very much.. (19:34)
Waktu terus merambat hampir jam 8 malam. Sudah 2 botol air mineral kutenggak habis tapi makhluk yang kutunggu belum sampai juga. Kiranya kesabaranku masih tersisa banyak untuk makhluk yang satu ini.
+I’m here. Where are thou? (19:55)
Sebelum jam 20.00 tepat di sebrang tempatku duduk kulihat dirimu berjalan di sepanjang halte busway sambil celingak-celinguk mencariku seperti maling jemuran takut ketauan.
***
Malam itu lokasi yang kita tuju memang sedang ramai tapi masih ada beberapa meja kosong tak bertuan. Setelah memilih meja dan duduk, kuberikan untukmu buku dan majalah kereta itu. Lalu seingatku pelayan di RBE itu menghampiri sambil menyodorkan daftar menu.
“Mau pesen apa?”
Dan tak berapa lama dari itu dua porsi sate padang pun datang beserta jus alpukat dan ovaltine dingin. Bolehlah disebut ini wisata kuliner versi orang lapar di bulan suci yang kebelet diskusi.
“Jadi dari sms kesimpulan gw tadi, lo termasuk yang no brapa, L?,” obrolan pun langsung kumulai tanpa perlu persetujuan. Dan mulailah kita berkicau soal ibukota dengan segala keanehannya, dengan segala kepadatan, kemacetan, dan kebrengsekannya. Menyambung sms-mu yang di atas tadi .. Lets talk ‘bout Jakarta next.., aku selalu bilang pada orang-orang, Jakarta bukanlah kota yang sehat bagi jiwa dan raga. Dan hanya mereka yang paling mati rasa yang bisa tinggal di Jakarta. Sampai detik ini pendapatku tidak pernah berubah. But I love this city very much, katamu. Aku pun maklum. Kurasa inilah salah satu bentuk lain dari cinta itu buta, pikirku.
Ketika seseorang tidak bisa mengubah keadaan di sekitarnya, maka ia akan beradaptasi dengannya. Sementara bagiku sendiri, aku tak pernah bisa atau belum bisa, dan mungkin takkan pernah bisa berdamai dengan kota Jakarta ini. Entahlah, L. Apa yang tak bisa kau taklukkan dengan hati, hancurkan dengan batu, itu kata suara hati.
Aku juga bilang, rasanya tak aneh kalau orang-orang macam Ahmad Tohari, Butet Kertaredjasa dan Gde Prama tak bisa tinggal di Jakarta. Lantas kau pun bercerita tentang ayahmu yang juga tidak suka tinggal di Jakarta. Ya, kita tau sama tau, suasana alam pedesaan yang hijau, ramah, dan sejuk memang lebih cocok untuk orang-orang yang tak suka dengan kehidupan kota yang hiruk-pikuk.
“Bisakah kita melihat segala sesuatu sebagaimana adanya, bukan sebagaimana seharusnya?,” tanyaku setelah itu.
Sementara kita mengobrol, pengamen-pengamen mulai menghampiri berdendang datang dan pergi, silih berganti. Bergitar, kecapi, suling…pajak peradaban, judulnya. Sejumlah uang logam pun berpindah tangan. Bahkan sempat-sempatnya pula kau memintaku menyanyikan sebuah lagu dari era 90’s ketika itu. Tapi karena malu aku tak bisa mengabulkannya. *Kau boleh tertawa di sini. Durjana, kalau perlu*
Lalu aku bercerita tentang pertama kalinya menginjakkan kaki di Senayan City, satu dari sekian mall mewah di ibukota. Pemborosan, sahutku. Segala fasilitas kemewahan hanya untuk dinikmati segelintir orang saja. Katakanlah penduduk Jakarta ada 10-13 juta orang. Sementara kalangan jetset dan kelas atas yang berduit lebih paling-paling tidak lebih dari 1-2 juta orang. Di sisi lain, radikal itu menjual, kata judul sebuah buku baru.
Meski angka itu hanya hitungan kasar, tapi kita tau, faktanya memang sebagian besar warga Jakarta adalah mereka yang kalangan ekonomi lemah yang masih mengais untuk hidup. Terlalu lebar jurang pemisah itu, terlalu jauh ketimpangan itu.
Dan selebihnya, tentang penderitaan sesama, kita yang setidaknya pernah makan sekolahan hanya bisa bertanya “kenapa” dengan hati teriris.
Untunglah kita bicara soal mall ini selagi di RBE. Seandainya kita menghujat dan mencaci mall itu ketika kita sedang berada di dalam mall, tentu jadi munafik kesiangan namanya.
Konon, kapitalisme itu baik, katanya, tapi harga yang harus dibayarnya adalah manusia. Dan harga itu terlalu mahal untuk seluruh peradaban. Yup, I know. Inilah barangkali yang disebut pikiran orang idealis-moralis yang tak bisa berbuat apa-apa. Makan tuh idealisme!, kata orang-orang sinis.
Tapi Pramoedya benar kan, L, biar kuingatkan sekali lagi, seorang terpelajar harus sudah berlaku adil sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan.
Kenapa Jakarta tidak membangun semacam museum atau library center yang layak dan memadai, tanyamu protes, seolah menantang orang-orang sinis di luar sana. Lalu dari situ kita bicara soal skala prioritas pembangunan dan omong kosong pemerataan di negeri ini yang semuanya jadi serba Jawa-sentris. Tema yang super serius ya sebenarnya (sesama kaum pemikir? Don’t u think? But none of us are philosopher, rite?).
Dan selanjutnya kau pun bercerita tentang profesimu, tentang proyek-proyekmu di sejumlah tempat dan cerita sejumlah mall di Depok yang patah hilang tumbuh berganti. Aku mendengarkan..dan mendengarkan. Awalnya God is an Architect, sahutku mengingat tulisan di kaos Cina di film cin(T)a. Dan akhirnya God is a Director..(cari tuh kaosnya..*teteup*). But, what if God was one of us?, kata lirik lagu itu.
Dari soal arsitek itu pula obrolan beranjak ke komentar seorang teman di tulisanku “Kenapa Membaca Sastra”. Zaman dahulu kala mahasiswa teknik ternyata ditugaskan juga membaca banyak buku sastra, kata teman itu dari dongeng kakeknya. Alasannya: supaya setelah lulus nanti mereka tidak tunduk pada pedagang dan cuma jadi tukang. Supaya mereka juga punya hati nurani..Hmm..Jostein Gaarder benar rupanya, memiliki hati nurani tidak sama dengan menggunakannya..
Lalu kau pun bercerita sedikit tentang salah seorang bosmu yang juga membaca sastra, Ronggeng Dukuh Paruk-Ahmad Tohari. Ternyata memang tidak banyak ya orang teknik yang membaca sastra.
Obrolan pun merembet ke soal teknik dan non teknik. Apa bedanya, tanyaku. Pola pikir? Aplikasi? Rasanya tak perlu lagi kita bahas di sini. Yang kemudian kuceritakan padamu adalah sebuah dongeng kocak tentang tingkat pendidikan. Bukan, bukan maksudku mau merendahkan atau bersifat rasis soal tingkat pendidikan. Tapi aku ingat sekali sebuah pertanyaan dari seorang kuli bangunan di kantorku pada suatu malam ketika aku masih i’tikaf internetan di depan komputer.
“Jadi lebih hebat mana, mas, komputer atau internet?,” tanya si kuli bangunan itu.
Kau tertawa, L. Dan aku juga.
“Bingung gak lo jawabnya?,” tanyaku masih dalam tawa.
Kupikir kau juga akan sepakat jika kukatakan, seorang Bill Gates sekalipun bakalan tersentak dan bingung garuk kepala dengan pertanyaan lugu semacam itu.
Masih di sekitar obrolan tentang tingkat pendidikan. Akhirnya kita berdua sepakat menyimpulkan: tidak ada kaitannya antara tingkat pendidikan dengan perilaku. Orang pintar boleh minum tolak angin,tapi yang bejat tetap saja bejat. Hal ini kita perkuat dengan beberapa contoh kasus sederhana. Perilaku membuang sampah, misalnya. Seperti ceritamu di kereta itu. Kau sempat menegur orang yang membuang sampah sembarangan.
***
Rasanya aneh ya kalo ke RBE tapi tidak mencoba roti bakarnya, sahutku memancing kuliner ronde kedua. Akhirnya dengan kehadiran roti bakar coklat keju beserta air mineral dan lemon tea, ronde kedua pun dimulai. Lalu aku bercerita tentang hobiku mengkliping, membuat majalah himpunan, tentang awal kepenulisan dari mulai surat pembaca di koran. Aku juga suka menulis kisah perjalanan di majalah kampus dulu, katamu.
“Emang sebenernya apa menu obrolan kita malam ini?,” tanyaku tiba-tiba, memecah jeda kesunyian.
“The Fall”
“Ooh..ok.”
Dengan sepintas lalu kita pun membahas film itu. Belum mengendap, jawabmu ketika kutanya komentar tentang isi filmnya. Terus terang saja jawaban itu tidak seperti yang kuharapkan. Well, pada akhirnya soal selera memang boleh berbeda, tak ada kewajiban harus sama. Dengan berbesar hati, aku pun maklum.
Dan setelah jeda yang kesekian aku kembali menyimpulkan tentang kondisi, keadaan ibukota. Tidakkah kita berpikir, sahutku, bahwa apa yang kita alami, lihat, di ibukota selama ini adalah pergulatan terus-menerus seperti lingkaran setan antara tesis, antitesis, dan sintesis. Seperti teori filsafat Hegel, tambahku (ah sedikit bercuap filsafat tak apalah ya).
Maksudku seperti ini: tekanan hidup yang tinggi dan jalanan ibukota yang begitu macetnya melahirkan banyak orang stres. Dan itulah tesisnya. Maka kemudian antitesis dari keadaan itu adalah munculnya jasa/layanan penghilang stres di berbagai tempat. Misalnya yoga, spa, panti pijat, tempat hiburan, mall, fitness center, atau apa pun namanya. Jadi tiap kali ada suatu kondisi maka akan ada orang yang “memanfaatkan” kondisi itu untuk menciptakan formulanya. Semacam virus. Tiap kali diciptakan suatu virus maka diciptakan pula anti-virusnya. Satu paket. Mirip aksi-reaksi.
Nah, tesis dan anti-tesis adalah ibarat dua kutub berlawanan. Dan resultan dari kedua kutub itu adalah sintesis, semacam hasil jalan tengah atau hasil interaksi dari dua kutub ekstrem itu. Entah dalam bentuk apa pula nantinya orang-orang akan membikin sintesis dari dua keadaan berlawanan ini. Rasanya tak perlu kita pikirkan benar (serius amat ya? atau ngawur?).
Dan permasalahan mendasar dari kota Jakarta ini menurutku adalah karena tak ada orang-orang yang mau memikirkannya. Warga Jakarta sudah terlalu disibukkan dengan aktivitas bertahan hidup sehari-hari. Sibuk mengejar periuk nasi masing-masing. Jadi mereka sudah malas dipusingkan dengan urusan memikirkan keadaan kotanya. Masing-masing orang menjadi egois, selfish, dan individual. Tipikal kehidupan kota. Dan kita tau, tak ada tindakan yang dimulai tanpa pikiran.
Tentu masih ada orang-orang/lembaga/instansi pemerintah yang memang tugasnya memikirkan keadaan kota, seperti orang-orang Planologi itu misalnya. Apa saja kerjanya orang-orang Planologi itu? tanyaku. Bikin RTRW, katamu, yang kemudian untuk dilanggar, selalu seperti itu. Blue print rencana tata ruang yang mereka bikin selalu tidak dipatuhi. Semuanya jadi mentah lagi dan tunduk pada urusan bisnis semata. Uang, kata seorang penulis, adalah sebuah persekongkolan yang tak diucapkan. Dan uang juga adalah agama semua orang, kata Sartre.
***
Tak terasa waktu berjalan terus, kulihat jam di tanganku. Hampir merapat ke jam 12 malam. Itu artinya sudah hampir genap 4 jam kita ngobrol ngalor-ngidul jelas-gak jelas. Obrolan yang menyenangkan-kah? Jawabannya sudah jelas, dan sudah kita akui sama-sama. Yes it was a very long nice conversation..indeed. Karena kau merasa menjadi dirimu sendiri katamu di kemudian hari.
Aku pun sempat bilang padamu di hari yang sama itu (masih di obrolan dunia maya),
“..Gw sempet mikir..ni orang ko betah ya gw ajak ngobrol lama panjang gt. Bahas apa pun..”
“Haha, gw jg berpikir gt ttg lo. Koq kuat ngbrl ma gw ya?”
“Gw seneng malah bahas apa pun..”
“Kl gw jwb pan..”
“Ya?”
“Krn ngbrl ma elo bikin gw jd diri gw sendiri”
Orang lain masih asik mengobrol ketika kita beranjak meninggalkan medan pertempuran tanpa keringat, darah, dan air mata. Karena memang tak ada pertempuran sebenarnya. Yang ada adalah pertemuan dan percakapan panjang dari dua makhluk yang masih terus belajar menjalani kenyataan, mengarungi kehidupan yang lebih kaya dari sekadar kata-kata.
Tentu sudah tak ada kereta di malam selarut ini. Tak ada bus, dan tak ada angkutan umum yang bisa mengantar kita pulang kecuali taksi. Kita pun berjalan menuju arah persimpangan, menuju taksi perpisahan.
“Tumben kemaren gak dikeluarin senjatanya,” sahutku dalam canda, teringat acara buka bersama dua hari sebelumnya.
Dan sambil berjalan itulah kita sempat mendongak ke arah langit.
Yup, ada bulan di atas sana, juga bintang-bintang.
Tak ada matahari…
(Pandasurya, Bandung, Lebaran 2009)







kenapa coba orang suka ngobrol panjang lebar?
karena penasaran. karena pengen tahu. karena dasarnya emang suka ngobrol. karena topiknya menarik. karena minatnya sama.
ada satu lagi sih, tapi gak aku bilang ah, nanti diapprove. empunya blognya peka sih..
kenapa ya orang suka mengobrol lama dan panjang lebar ?
karena penasaran? karena asyik? karena topiknya menarik atau yang diajak ngobrol menarik? karena pengen mencurahkan hati? atau karena bintangnya sama?
atau karena… hehehe… gak jadi ditulis ah, karena empunya blog ini perasa dan peka, bisa nggak diapprove tuh…
Ow..ow..ow..ada apakah ini????????????
@echa
menurut lo ada apa, cha? :-p
emang keliatan?? :-p
@Indri
kenapa gak diterusin komennya??:-p
takut gak diaprup? takut digigit??:-p
sok atuh klo mau diterusin..(tp teteup gw liat dulu, klo perlu gw sensor..hehehe..):-p
ada udang di balik bakwan..eh salah ada panda di balik bambu he9
curhatnya panjang ya, cha..
roti bakarnya enak lho..
*sambil nyolek bakwannya echa*