February 5, 2010 by pandasurya
Biru langit pagi ini
pagi Februari
mungkin hujan sore nanti
don’t you see?
orang-orang bergegas dalam bayang
teringat gambar Satrapi
tapi pagi ini bukan pagi revolusi
cuma antrian panjang periuk nasi dan lupa diri
sambil menunggu mati
mengapa pilih jalan yang sulit
seolah tak ada ruang ‘tuk berkelit?
dan buat apa juga pelit
maut mengintai setiap detik
Seperti katamu malam itu,
“Yang membedakan bukan bagaimana kita lahir dan menjalani
tapi seperti apa kita ‘kan mati”
Sebab cinta yang baik, tak cuma untuk hari ini
tapi juga buat nanti
semoga jemuranku kering hari ini
(Nov ‘09-Feb’10)
Posted in Masih Puisiku | Tagged cinta, februari, jemuran, mati, revolusi, satrapi | Leave a Comment »
January 11, 2010 by pandasurya
Well, that day, that day. I lay down beside myself.
In this feeling of pain, sadness, scared, small, climbing, crawling,
Towards the light. And it’s all that I see.
And I’m tired and I’m right. And I’m wrong. And it’s beautiful.
Terkadang memang, betapa sebuah lagu, baik lirik dan musiknya, bisa menggambarkan dengan jitu keadaan yang sedang kita alami dan bayangkan.
Dan lagu berikut ini sudah cukup berkata dengan sendirinya. .
That Day
by Natalie Imbruglia Download That Day – Natalie Imbruglia mp3
Video Clip
Well, that day, that day.
What a mess.
What a marvel.
I walked into that cloud again and I lost myself.
And I’m sad, sad, sad,
Small, alone, scared,
Craving purity,
A fragile mind and a gentle spirit.
Well, that day, that day.
What a marvelous mess.
This is all that I can do;
I’m done to be me.
Sad. Scared. Small. Alone. Beautiful.
It’s supposed to be like this.
I accept everything.
It’s supposed to be like this.
Well, that day, that day.
I lay down beside myself.
In this feeling of pain, sadness,
Scared, small, climbing, crawling,
Towards the light.
And it’s all that I see.
And I’m tired and I’m right.
And I’m wrong.
And it’s beautiful.
-lirik selanjutnya->
Posted in Download Sedoot, Musik | Tagged alone, climbing, crawling, day, hurt, jitu, lagu, light, marvel, mess, natalie imbruglia, pain, right, sad, sadness, scared, small, strong, suncloud, tired, wrong | Leave a Comment »
January 6, 2010 by pandasurya
Ini Bandung kota tua, Tuan
Terlalu tua untuk berkaca pada kenyataan
Terlalu senja untuk merenungi kebisingan
Di hening Cisangkuy
pohon-pohon tua merintih pelan
Lirih serupa gumam
Dan orang-orang lalu lalang seperti biasanya
Tanpa desir dalam dada
Seperti tak merasakan apa-apa
Mungkin Tuan akan bertanya,
Ada apa dengan Bandung hari ini?
Di sela kesibukan Asia Afrika
Di tengah keramaian Merdeka
Orang-orang menanam impian di sudut jalan
Wajah-wajah melintas
menatap dingin
Dan ini Bandung yang gelisah
tak sempat damai dengan ramai
Bukan sepi, memang
Hanya timbunan harapan setengah tiang
(Sept ‘05)
Posted in Masih Puisiku | Tagged asia afrika, bandung, cisangkuy, tua, tuan | Leave a Comment »
January 5, 2010 by pandasurya
Mari bicara soal praktis dan gak praktis.
Praktis adalah ketika kau tidak mempertanyakan apa-apa terhadap situasi atau keadaan yang ada di sekelilingmu, segala apa yang kau lihat, dengar, rasakan, dan alami. Praktis adalah ketika kau hanya sekadar hidup menjalani tanpa mempertanyakan/mempertimbangkan/memikirkan sejumlah hal, banyak hal dalam hidup. Bahkan keberadaanmu sendiri.
Dan gak praktis adalah kebalikan dari semua itu.
Ketika untuk berpikir pun kau harus berpikir dulu maka kau sudah jadi orang gak praktis. Ketika kau harus memilah-milah terlebih dulu apa yang akan kau pikirkan maka artinya kau sudah bukan orang praktis.
Selamat datang, kawan, selamat bergabung di dunia orang-orang yang tidak praktis..
Terkadang memang ada enaknya jadi orang yang tidak tau apa-apa.
Setidaknya jadilah orang yang tau bahwa dirimu tidak tau apa-apa..
Posted in Tulisanku | Tagged hidup, dunia, praktis, lihat, dengar, rasakan, alami | 2 Comments »
December 30, 2009 by pandasurya

Pelarangan Buku & Penarikan Buku dari Peredaran Merugikan Pembaca dan Melanggar Hak Pembaca
Pada 23 Desember 2009, Kejaksaan Agung mengumumkan pelarangan lima judul buku yang dianggap ‘mengganggu ketertiban umum’, yakni pertama, Dalih Pembunuhan Massal Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto karya John Rosa. Kedua, Suara Gereja bagi Umat Tertindas: Penderitaan Tetesan Darah dan Cucuran Air Mata Umat Tuhan di Papua Barat Harus Diakhiri karya Cocratez Sofyan Yoman. Ketiga, Lekra Tak Membakar Buku: Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat 1950-1965 karya Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M Dahlan. Keempat, Enam Jalan Menuju Tuhan karya Darmawan. Kelima, Mengungkap Misteri Keberagaman Agama karya Syahrudin Ahmad. Selain itu, di kurun waktu yang sama juga terjadi penarikan buku Membongkar Gurita Cikeas karya George Junus Aditjondro dari peredaran. Pelarangan dan penarikan buku ini merupakan satu dari banyak kejadian serupa dengan yang selama ini sudah seringkali terjadi di Indonesia.
-baca selanjutnya->
Posted in Artikel | Tagged baca, Buku, goodreads, indonesia | Leave a Comment »
December 9, 2009 by pandasurya
Biarkan saya bercerita tentang 3 orang.
Orang Pertama: Namanya Endhita. Dia seorang model, artis film, sinetron, sekaligus presenter di TV. Di tengah dunia yang padat jadwal dan serba gemerlap dia mengaku sebenarnya sangat menyukai pantai dan keheningan. Seringkali ia ingin mencari tempat sunyi, jauh dari kesibukan dan hiruk pikuk kota besar seperti Jakarta. Karena itulah ia tak pernah bosan pergi ke pantai-pantai di Bali, Belitung sampai Lengkawi.
“Aku ingin hidup di pantai yang tenang, damai, hidup seperti nelayan yang sederhana,” katanya. “Hidup di kota pikiran bisa ruwet.” Di pantai ia bisa jadi dirinya sendiri, begitu katanya.
Orang Kedua: Sewaktu masih berjualan jagung bakar di Puncak, Bogor, Dili pernah punya niat mengambil anakan burung elang jawa yang ada di hutan sekitar kawasan perkebunan teh di Puncak, Bogor. Maksudnya sederhana: menambah modal untuk berjualan. Tapi kini bisa dibilang profesi Dili adalah sebagai pemandu wisata “nonton” elang Jawa di kawasan perkebunan teh Puncak, Bogor. Yang dipandunya tidak tanggung-tanggung: ribuan turis dan peneliti dari manca negara seperti Jepang, Perancis, Belanda, Inggris, dan Amerika Serikat, termasuk sejumlah aktivis pemantau burung. Hanya Dili satu-satunya penduduk sana yang aktif dalam konservasi burung langka itu. “Hutan di kawasan ini harus dijaga betul-betul supaya elang tetap bisa bertahan,” katanya.
-baca selanjutnya->
Posted in Tulisanku | Tagged dili, elang, endhita, ikan, model, profesi, puncak, silaban | 1 Comment »
November 7, 2009 by pandasurya
Diterjemahkan dari “Global Warming and Art” by John Luther Adams

Sebagian orang mengatakan dunia akan hancur oleh api. Yang lain lagi bilang oleh es. Di sini, di Alaska, wilayah yang diliputi salju dan es, kami mulai merasakan api.
Di musim panas tahun 2000 suku Inupiat di Barrow—pemukiman paling jauh di utara Amerika Utara—mengalami badai petir pertama kali dalam sejarah. Ikan Tuna muncul di Samudera Arctic. Tak seorang pun pernah melihat ikan tuna di Utara ini sebelumnya. Musim dingin berikutnya danau Illiamna di semenanjung Alaska tak membeku samasekali. Tak seorangpun penduduk asli di sana, bahkan para tetuanya, pernah mengingat kejadian ini.
Di Fairbanks untuk pertama kalinya dalam sejarah, suhu tidak turun di bawah 40 derajat. Salju yang turun di bulan-bulan di musim dingin pun hanya sedikit dan angin yang terus-menerus berubah diikuti dengan datangnya musim semi yang terlalu cepat. Ini bukanlah hal yang menggembirakan, atau keganasan alam dari musim semi di wilayah sub-Arctic. Ini adalah proses perlahan menuju kepunahan.
Di tahun ini, sekali lagi musim dingin tak pernah benar-benar hadir. Daerah di bagian tengah selatan Alaska mengalami badai dengan angin paling kencang yang pernah terjadi di sana. Lomba kereta anjing yang biasa dilakukan suku Iditarod terpaksa harus dipindahkan ratusan mil ke utara karena tak adanya cukup salju di kawasan mereka. Di sini, di Fairbanks, suhu rata-rata sepanjang September hingga Februari tercatat sebagai suhu terhangat dalam sejarah. Di bulan November dan kembali di bulan Februari, kami mengalami hujan yang sangat dingin. Di komunitas kecil Salcha, kepingan es di sungai Tanana terpecah dan tersangkut hingga menyebabkan banjir di jalanan dan sekitar pemukiman. Peristiwa ini terjadi di bulan April atau Mei, bukan di saat musim dingin.
-baca selanjutnya->
Posted in Tulisanku | Tagged alaska, global warming, iklim, monet, pemanasan global, seni | Leave a Comment »
November 7, 2009 by pandasurya
Lebih baik kalah dalam beberapa pertempuran demi mimpi-mimpimu
daripada dikalahkan tanpa pernah tahu untuk apa kau bertempur
(Paulo Coelho, Di Tepi Sungai Piedra..h. 58)
Posted in Kutipan | Tagged kalah, mimpi, paulo coelho, tempur | Leave a Comment »
November 7, 2009 by pandasurya
Puisi lahir dari sepi. Dan kita tak pernah bertanya untuk apa. Seperti bunga mawar yang tak pernah ditanya untuk apa dia ada. Bunga mawar ada begitu saja tanpa kenapa. Tidak selamanya dalam hidup ada hal-hal yang bisa ditanya untuk apa, apa maksudnya, atau untuk tujuan apa. Tidak semua hal harus penting sebagaimana tidak semua harus ada apa atau kenapa mengapa.
Mereka yang terlalu serius menjalani hidup dengan tekanan rutinitas yang padat dan terlalu tegang biasanya sulit menikmati puisi, apalagi memahaminya. Maka mungkin untuk itulah buku seperti ini ada. “Selendang Pelangi”, judulnya. Kumpulan puisi isinya. Karya 17 penyair perempuan Indonesia.
Kenapa hanya 17? Bisa jadi pertanyaan ini tidak terlalu penting. Kalau pun misalnya hanya 10, maka orang bisa bertanya pula, kenapa hanya 10? Tapi kalau pun “terpaksa” mau dikaitkan dan dicarikan jawabannya, mungkin sengaja dipilih 17 penyair karena angka 17 adalah “angka keramat” atau semacam “nomor cantik“ di negeri ini. Dan bukan kebetulan pula jika kata ‘cantik’ juga identik dengan kaum perempuan. Jadi kenapa 17? Sangat boleh jadi karena dikaitkan dengan hari kemerdekaan negeri ini yang diperingati setiap tanggal 17 Agustus.
Kenapa pula judulnya “Selendang Pelangi”? Kombinasi dua kata ‘Selendang’ dan ‘Pelangi’ memang membentuk nama yang indah. Rasanya seseorang memang harus terlahir sebagai orang Indonesia untuk memahami betul arti kata ini. Judul “Selendang Pelangi” tentu dipilih bukan tanpa alasan atau kebetulan.
-baca selanjutnya->
Posted in Artikel, Buku, Tulisanku | Tagged langit, pelangi, perempuan, puisi, selendang | Leave a Comment »
Older Posts »