Feeds:
Posts
Comments

Diterjemahkan dari “Global Warming and Art” by John Luther Adams

alaska
Sebagian orang mengatakan dunia akan hancur oleh api. Yang lain lagi bilang oleh es. Di sini, di Alaska, wilayah yang diliputi salju dan es, kami mulai merasakan api.

Di musim panas tahun 2000 suku Inupiat di Barrow—pemukiman paling jauh di utara Amerika Utara—mengalami badai petir pertama kali dalam sejarah. Ikan Tuna muncul di Samudera Arctic. Tak seorang pun pernah melihat ikan tuna di Utara ini sebelumnya. Musim dingin berikutnya danau Illiamna di semenanjung Alaska tak membeku samasekali. Tak seorangpun penduduk asli di sana, bahkan para tetuanya, pernah mengingat kejadian ini.

Di Fairbanks untuk pertama kalinya dalam sejarah, suhu tidak turun di bawah 40 derajat. Salju yang turun di bulan-bulan di musim dingin pun hanya sedikit dan angin yang terus-menerus berubah diikuti dengan datangnya musim semi yang terlalu cepat. Ini bukanlah hal yang menggembirakan, atau keganasan alam dari musim semi di wilayah sub-Arctic. Ini adalah proses perlahan menuju kepunahan.

Di tahun ini, sekali lagi musim dingin tak pernah benar-benar hadir. Daerah di bagian tengah selatan Alaska mengalami badai dengan angin paling kencang yang pernah terjadi di sana. Lomba kereta anjing yang biasa dilakukan suku Iditarod terpaksa harus dipindahkan ratusan mil ke utara karena tak adanya cukup salju di kawasan mereka. Di sini, di Fairbanks, suhu rata-rata sepanjang September hingga Februari tercatat sebagai suhu terhangat dalam sejarah. Di bulan November dan kembali di bulan Februari, kami mengalami hujan yang sangat dingin. Di komunitas kecil Salcha, kepingan es di sungai Tanana terpecah dan tersangkut hingga menyebabkan banjir di jalanan dan sekitar pemukiman. Peristiwa ini terjadi di bulan April atau Mei, bukan di saat musim dingin.

-baca selanjutnya->

Mimpi-Tempur

Lebih baik kalah dalam beberapa pertempuran demi mimpi-mimpimu
daripada dikalahkan tanpa pernah tahu untuk apa kau bertempur

(Paulo Coelho, Di Tepi Sungai Piedra..h. 58)

rainbow_by_iamJoliePuisi lahir dari sepi. Dan kita tak pernah bertanya untuk apa. Seperti bunga mawar yang tak pernah ditanya untuk apa dia ada. Bunga mawar ada begitu saja tanpa kenapa. Tidak selamanya dalam hidup ada hal-hal yang bisa ditanya untuk apa, apa maksudnya, atau untuk tujuan apa. Tidak semua hal harus penting sebagaimana tidak semua harus ada apa atau kenapa mengapa.

Mereka yang terlalu serius menjalani hidup dengan tekanan rutinitas yang padat dan terlalu tegang biasanya sulit menikmati puisi, apalagi memahaminya. Maka mungkin untuk itulah buku seperti ini ada. “Selendang Pelangi”, judulnya. Kumpulan puisi isinya. Karya 17 penyair perempuan Indonesia.

Kenapa hanya 17? Bisa jadi pertanyaan ini tidak terlalu penting. Kalau pun misalnya hanya 10, maka orang bisa bertanya pula, kenapa hanya 10? Tapi kalau pun “terpaksa” mau dikaitkan dan dicarikan jawabannya, mungkin sengaja dipilih 17 penyair karena angka 17 adalah “angka keramat” atau semacam “nomor cantik“ di negeri ini. Dan bukan kebetulan pula jika kata ‘cantik’ juga identik dengan kaum perempuan. Jadi kenapa 17? Sangat boleh jadi karena dikaitkan dengan hari kemerdekaan negeri ini yang diperingati setiap tanggal 17 Agustus.

Kenapa pula judulnya “Selendang Pelangi”? Kombinasi dua kata ‘Selendang’ dan ‘Pelangi’ memang membentuk nama yang indah. Rasanya seseorang memang harus terlahir sebagai orang Indonesia untuk memahami betul arti kata ini. Judul “Selendang Pelangi” tentu dipilih bukan tanpa alasan atau kebetulan.

-baca selanjutnya->

Fateless..

(Resensi Novel “Fateless” karya Imre Kertesz)

Yang namanya mati rasa memang tak pernah mengenal masa. Di masa perang, di masa damai, rasa tanpa rasa bisa hadir kapan saja tanpa mengenal waktu dan usia. Sejarah pun menjadi saksi mata. Di masa Perang Dunia II di Eropa, seorang remaja 15 tahun mengalaminya. George Kovas namanya. Ia tinggal di Budapest, Hungaria. Dan Imre Kertesz menuliskan kisahnya.

Suatu hari George Kovas meminta izin pada gurunya di sekolah untuk meninggalkan kelas karena alasan yang pribadi sifatnya. Dia harus pulang untuk bertemu ayahnya untuk yang terakhir kalinya. Perpisahan, judulnya. Perpisahan selamanya karena sang ayah harus pergi ke kamp konsentrasi Nazi.

Manusia sesungguhnya tak pernah minta dilahirkan sebagai apa, kapan, dan di mana. Tapi di masa PD II menjadi bangsa Yahudi adalah sebuah kesalahan sejarah. Begitulah menurut rezim Hitler dengan partai Nazi-nya di Jerman. Dan seperti juga sejarah yang sudah-sudah, yang namanya kesalahan harus disingkirkan, meski itu berarti harus memberangus ribuan nyawa suatu bangsa.

Dan keluarga Kovas adalah orang Yahudi.

-baca selanjutnya->

perahu kertas

(Resensi novel “Perahu Kertas” Dee)

Hai Dee yang baik,

Perkenalkan, saya salah seorang pembaca Perahu Kertas (PK). Kita memang belum pernah kenal sebelumnya. Tapi pastinya saya sudah tau seorang Dewi “Dee’ Lestari karena kamu penulis dan penyanyi terkenal di negeri ini.

Kalau boleh, Dee, izinkan saya menulis surat ini. Anggaplah ini sekadar kesan-kesan saya setelah membaca PK. Tapi mungkin saya nggak akan menghanyutkannya surat ini di sungai, kali, apalagi lautan.

Baiklah, saya mulai ya.
Pastinya kita semua tau, Dee, manusia tak pernah lahir dari batu atau jatuh dari langit. Manusia adalah produk lingkungannya. Ia terbentuk dari pengalaman-pengalaman hidup tempat di mana ia lahir, tumbuh, dan mati. Termasuk di dalamnya pengalaman membaca seseorang.

Pernah suatu kali di malam yang sepi, sambil memegang sebuah buku, saya merenungkan sebuah pertanyaan iseng: bisakah kita membaca sebuah buku tanpa membawa serta pengalaman membaca kita sebelumnya? Atau lebih jauh lagi, bisakah kita membaca sebuah buku tanpa mengikutsertakan pengalaman hidup kita selama ini yang terkait dengan buku, musik, atau film misalnya? Dalam bahasa sederhana: bisakah kita mengosongkan dahulu semua panca indera kita, segala pikiran dan hati kita ketika akan membaca sebuah buku?

-baca selanjutnya->

Pada suatu hari yang tak mungkin
Setelah menempuh perjalanan jauh ke dalam batin
Kita berdua ‘kan duduk di sini
Di tepi telaga ini
Dilingkupi angin segar pagi hari
Dan hijau pepohonan menemani

Tapi karena jarak,
Ya, karena jarak
Kita terpisahkan berjauhan
Kau di seberang telaga sana
Aku di seberang sini
Namun tak ada jarak batin di antara kita

Lalu kita ‘kan saling bertatapan dalam diam
Seperti yang kau inginkan
Tapi kita tau, batin kita berbicara dalam seribu bahasa
Yang seluruhnya hanya bermuara pada satu makna:
Kata orang itu “cinta”
Atau prasangka belaka?
Atau bukan keduanya?

Kita berbincang panjang tentang kehidupan
Tentang dunia yang rawan, dan
negeri di atas awan
yang langitnya berhiaskan bintang-bintang
Matahari dan pelangi selalu setia menemani
Juga hujan, seperti yang kau inginkan

“Hidup adalah bagian terbaik dari mati*,” katamu lirih
Aku mengangguk tanda mengerti, seraya menimpali dalam hati,
“Dan kau adalah bagian terbaik dari mimpi*”

Pada suatu hari yang tak mungkin
Kita berdua kan duduk di sini
Di tepi telaga ini
Dan kali ini
kau ada di sampingku
kepalamu bersandar di bahuku

sementara bumi hanyalah sebutir debu di telapak kaki kita..**

(Oktober’09)

* Puisi Isma Sawitri, Selendang Pelangi h.38
**Perahu Kertas,Dee. h.312

Hai, L, howdy..
Biar kumulai tulisan ini langsung saja ya. Tanpa basa-basi ala obat nyamuk lagi.

Dari suatu obrolan di dunia maya suatu kali kau pernah bilang, kira-kira begini:
“Hei, suatu saat nanti tampaknya kita harus bertemu untuk minum kopi dan membahas soal Jakarta ini..”
Aku tertawa. “Ya kurasa memang perlu,” jawabku. “Aku sangat menantikannya.”
Kontan kau langsung berkata,
“Masalahnya, lo nyasar gaak??”
Sekali lagi aku tertawa. Kupikir tadinya itu hanya obrolan bercanda. Tapi nyatanya kau serius, I, lebih serius dari aku. Dan aku pun begitu akhirnya. Apa boleh buat. Kau sendiri yang bilang, di balik semua tampilan luarmu, kau adalah orang yang serius. *izinkan aku tertawa di sini, maaf*

Baiklah, L, genderang perang sudah ditabuh. Tak ada istilah mundur atau lari dari gelanggang. Aku pun setuju bertemu. Pemicunya sederhana: karena kita tak mau bergeming dengan pendapat masing-masing soal Jakarta (serius kali kita ini..hihihi). Tapi karena ini memang bukan perang sungguhan, tak ada derap pasukan yang ikut serta ke medan pertempuran.

***
“Ke roti bakar eddy yuk,” katamu di obrolan dunia maya setelah itu.
“Di al azhar ya?” tanyaku.
“Blkg al azhar blok m”
“Terkenal katanya ya”
“Iya, asik sih bt nongkrong. Rame, n murah2..”
Maka medan pertemuan pun sepertinya sudah ditentukan. Tanpa perlu rapat komisi dan ketuk palu. Aku setuju saja meski lokasi persisnya belum sepenuhnya terpetakan di kepalaku. Maklum.

Tapi sejujurnya aku sendiri masih belum yakin soal pertemuan ini. Kupikir rencana ini hanya bagian dari obrolan dunia maya yang penuh canda-tawa, kadang bercampur sedikit duka-luka alias curcol (curhat colongan). Maka aku pun sedikit ambil ancang-ancang:

-baca selanjutnya

Mimpi

Hidup adalah bagian terbaik dari matimimpi1
Dan kau adalah bagian terbaik dari mimpi

(Isma Sawitri, Selendang Pelangi, h. 38)

sehat itu murah2Bagi sebagian orang kesehatan mungkin bukanlah segala-galanya. Tapi segalanya bukan apa-apa tanpa kesehatan.

Buku menarik dan penting ini memuat petunjuk-petunjuk praktis yang bisa dilakukan sehari-hari tentang bagaimana menjalani gaya hidup sehat yang murah. Dengan buku ini juga sang penulis benar-benar menempatkan profesi dokter pada kedudukannya semula, yaitu mengobati orang sakit dan terutama mencegah orang jatuh sakit. Tentu bukan sebuah pandangan yang populer, karena itu sama artinya dengan mengurangi penghasilan dokter dan rumah sakit.

Buku ini ditulis dengan bahasa yang renyah, sederhana, dengan kalimat yang mudah dipahami orang awam. Pilihan katanya pun berasa “nyastra”. Inilah keunikan dan kelebihan buku ini. Seperti yang ditulis di hlm 75:

“Gaya hidup yang salah menelurkan jiwa yang galau, rohani yang sumbang, dan mental yang beku. Orang zaman sekarang kelihatannya saja sehat, namun di dalamnya kebanyakan gundah-gelisah. Hidup berkecukupan, namun tak merasa berbahagia. Segala punya, namun merasa hidupnya tak bermakna. Penyakit hidup tak bermakna menyusutkan rasa sentosa kita.”

Tak heran karena dokter ini juga suka menulis puisi sejak SMA hingga sekarang. Bahkan Antologi puisinya yang terakhir “ Sajak-sajak Pergi Berjalan Jauh” sudah terbit tahun 2006. Sebelum masuk ke halaman Daftar Isi di buku ini pembaca pun sudah disambut dengan sebuah puisi yang dipersembahkan penulis untuk keluarganya tercinta.

-baca selanjutnya->

Air Mata Pengarang

Air mata itu baru penting jika ia telah jadi puisi atau prosa.
Pengarang baru penting kalau ia mengarang.tears

(Asrul Sani, Surat-surat Kepercayaan, h. 100)

Older Posts »