You Can Find Me Here..

1.    Kosong-Pure Saturday
“Temukan diri dalam dunia tak terikira lelah.
Semua mati dan menghilang terlalu pagi..”

2.    Malaikat-The Milo
“Dan malaikat pun enggan menolehku.. Dan malaikat pun pergi dariku..”

3.    Eight Flew Over, One Was Destroyed-Mew
“Is a nice way I think to wake up with you
It’s a nice way I’m separated from you..”

4.    Silence-Pure Saturday
“Through I tried to face it
They’ll never be exist
I just won’t stay here and wait
I just want, I just want to die..”

5.    For All The Dreams That Wings Could Fly-The Milo
“The more of you remain in this hollow place..
until the more of you reveal
and no one cannot see this because behind my face
is it as real as life could be..”

6.    Don’t Worry for being Alone-The Milo
“Lights guide you through the emptiness
There’s something you could found
In the dark..”

7.    Daun dan Ranting Menuju Surga-The Milo
“Hadapi hidup yang remuk  hapus semua kenangan yang kelam
Semua nyata hati pun terluka..”

8.    Kekal-Homogenic
“It so dark in here
No I can`t see alight
Take all the fires on me..”

9.    Romantic Purple-Homogenic cover
“It’s the darkness in you that makes me so pure
The image of you has been burn into my eyes
I won’t say goodbye cause i never there..”

10.    That I Would be Good-Alanis Morissette
“That i would be good even if i did nothing.
That i would be loved even when i numb myself..”

Categories: Musik | Tags: , , , , , , | Leave a comment

Sekilas Riwayat Buku

Saat gen-gen kita tidak bisa menyimpan semua informasi yang diperlukan untuk mempertahankan hidup, secara perlahan-lahan kita membangun wahana itu. Tibalah saatnya, mungkin kira-kira sepuluh ribu tahun yang lalu, kita perlu tahu lebih banyak dari yang bisa disimpan di dalam otak. Maka kita belajar menyimpan informasi di luar badan kita. Sepanjang pengetahuan kita, kitalah satu-satunya spesies di atas planet yang telah menemukan memori komunal yang tidak disimpan di gen atau otak kita. Gudang ingatan ini kemudian kita sebut perpustakaan.

Buku dibuat dari pohon. Bentuknya berupa kumpulan lembaran-lembaran yang luwes (masih disebut daun) yang diberi cetakan tulisan tangan pendek-pendek dari pigmen warna gelap. Dengan membacanya, Anda akan mendengar suara orang lain—mungkin sudah meninggal ribuan tahun lalu. Terpisah dalam jangka waktu beribu-ribu tahun, pengarang berbicara dengan diam-diam dan jelas di dalam kepala Anda, langsung kepada Anda. Menulis mungkin adalah penemuan manusia terbesar, yang mengikat manusia bersama-sama, menyatukan rakyat dari masa-masa yang terpisah jauh, yang tidak akan pernah saling bertemu. Buku menghancurkan kungkungan waktu, bukti bahwa manusia bisa melakukan keajaiban.

Pengarang-pengarang kuno menulis di atas lempengan tanah liat. Tulisan-tulisan berbentuk baji (huruf paku), salah satu nenek moyang abjad Latin, diciptakan di Timur Dekat kira-kira 5000 tahun yang lalu. Tujuannya adalah untuk merekam data: pembelian gandum, penjualan tanah, kemenangan sang raja, kedudukan bintang-bintang dan doa-doa kepada para dewa. Selama ribuan tahun, tulisan dipahatkan pada tanah liat dan batu, diukirkan pada lilin lebah, kulit pohon atau kulit hewan, dilukiskan pada bamboo, lontar atau sutra—tetapi selalu hanya menghasilkan satu eksemplar atau, untuk pahatan di monumen-monumen, hanya untuk pembaca yang terbatas jumlahnya. Kemudian di antara abad kedua dan keenam, di Cina ditemukan kertas, tinta dan teknik pencetakan menggunakan batang-batang kayu berukir. Hal ini membuat salinan semakin banyak bisa dibuat dan dibagikan. Gagasan ini memerlukan waktu seribu tahun untuk bisa mencapai Eropa yang jauh dan terbelakang. Kemudian, buku-buku segera dicetak di seluruh dunia. Sebelum mesin cetak ditemukan, kira-kira sekitar tahun 1.450, buku yang ada di seluruh Eropa berjumlah tidak lebih dari beberapa puluh ribu. Semua buku tadi ditulis tangan, jumlahnya kira-kira sebanyak buku yang ada di Cina tahun 100 SM, dan sepersepuluh dari yang ada di Perpustakaan Besar Iskandariyah. Lima puluh tahun kemudian, sekitar tahun 1500, jumlah buku sudah berpuluh juta buah. Kesempatan belajar muncul untuk siapa pun yang bisa membaca. Keajaiban memperbesar ke mana-mana.

Perpustakaan terbesar di dunia mengandung jutaan volume, setara dengan seratus triliun bit informasi dalam kata-kata dan mungkin seribu miliar bit dalam gambar-gambar. Ini adalah sepuluh ribu kali lebih banyak daripada informasi yang berada di dalam gen kita, dan sepuluh kali jumlah informasi yang berada di dalam otak kita. Jika saya dapat menyelesaikan membaca sebuah buku dalam seminggu, maka dalam seluruh hidup saya, saya hanya akan mampu membaca beberapa ribu buku saja, kira-kira sepersepuluh persen isi perpustakaan terbesar yang ada pada zaman kita. Kiatnya adalah bagaimana memilih buku-buku yang perlu dibaca. Informasi yanga ada di dalam buku tidak diprogramkan saat kelahiran, tetapi selalu berubah, ditambah dengan peristiwa-peristiwa, diadaptasikan dengan dunia. Sekarang sudah dua puluh tiga abad sejak pendirian Perpustakaan Alexandria. Jika tidak ada buku, tidak ada catatan tertulis, coba pikir betapa banyak waktu dua puluh tiga abad ini. Bila dalam satu abad ada empat generasi, maka dalam dua puluh tiga abad ada hampir seratus generasi dilewatkan manusia. Jika informasi hanya bisa dilewatkan dari mulut ke mulut, betapa kecilnya pengetahuan kita tentang masa lalu, betapa lambatnya laju pengetahuan kita!

Buku-buku bisa membawa kita mengarungi perjalanan menembus waktu, untuk menimba kebijaksanaan nenek moyang kita. Perpustakaan menghubungkan kita dengan wawasan dan pengetahuan, yang diperoleh dengan susah payah dari Alam, dari para pemikir besar. Mereka bersama dengan guru-guru terbaik dari seluruh planet dan sepanjang sejarah, mengajari kita tanpa lelah, dan memberi kita inspirasi agar setiap orang bisa ikut menyumbang untuk pengetahuan umat manusia. Perpustakaan umum hidupnya bergantung pada sumbangan-sumbangan sukarela. Saya kira kesejahteraan kultur kita, kedalaman pengetahuan kita tentang dasar-dasar kebudayaan, dan perhatian kita ke masa depan, bisa dilihat dari cara kita membantu lestarinya perpustakaan.

(dikutip dari “Kosmos”, Carl Sagan, h. 364-367)

Categories: Buku, Kutipan | Tags: , , , | Leave a comment

Diri Sendiri

Kekuasaan manusia adalah kekuasaan menghadapi diri sendiri yang tak sepenuhnya dipahaminya sendiri, manusia lain yang tak selamanya dapat dimengerti, masyarakat yang tak pernah selesai terbentuk, semesta hidup yang tak kunjung tertangkap oleh dalil.

(Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 7, hlm. 307)

Categories: Kutipan | Tags: , , , , | Leave a comment

Fur Fathia by Hamid Basyaib

disalin dari sini

Fathia yang baik,

Pernah kamu bertanya, berapa persen cinta saya pada kamu?

“Tidak sampai seratus persen”.

Kamu mengeluh, dan beberapa hari kemudian mengajukan pertanyaan serupa. Jawaban saya tetap – bukan yang ingin kamu dengar. Di kesempatan lain kamu mengulangi “tekanan politik” dengan mengajukan pertanyaan sama.

Saya tahu kamu lebih suka saya berbohong – dengan mendayu-dayu, dengan mengutip lagu pop atau ungkapan klise remaja di sinetron yang sedang merayu gadis pujaannya, meski tak sampai berlutut atau menyembul dari balik pohon sawo seperti jagoan Bollywood. Karena kali itu saya tak ingin berdusta, maka saya tetap menjawab “tidak seratus persen”. Saya hanya bisa menambahkan bahwa cinta saya – sepanjang yang mampu saya rasakan saat itu – pasti besar, cukup besar untuk membangun sebuah landasan kebersamaan hidup kita. Dan saya pun tidak mengharap kamu mencintai saya seratus persen.

Sampai akhirnya kamu mengerti, dan tiba pada kesimpulan gemilang: “Saya setuju. Saya tahu, kalau cinta kamu seratus persen, kamu tak punya ruang lagi untuk berpikir.”

Dan tanpa ruang sisa itu, cinta akan rutin, dan karenanya membosankan, setidaknya tak mungkin lagi mekar – tak mungkin tumbuh ke berbagai arah yang barangkali tak terduga, tapi lebih kaya. Dan setiap hal yang setinggi seratus persen hanya punya satu arah perubahan: menurun, berkurang, mengalami erosi. Mungkin akhirnya mati.

Cinta memang tak pernah bunuh-diri. Ia biasanya mati karena dibunuh oleh satu atau kedua pelaku yang terlibat dalam percintaan itu.

Kamu seolah memetik buah dari pohon kearifan yang sama dengan yang mengilhami Kahlil Gibran, yang menyarankan supaya dalam kebersamaan tetap harus ada ruang bagi kedua pihak. Kamu menginsafi, perkawinan bukanlah penunggalan dua pribadi, tapi kesepakatan antara dua orang yang punya sejarah personal masing-masing untuk memandang ke satu arah yang sama. Keduanya tak perlu, tak boleh, melebur menyatu.

Sebab harga termurah dari peleburan itu adalah hilangnya diri kita, berubah menjadi bukan siapa-siapa, menjadi bukan apa-apa. Biarlah sudut terpencil di bilik jantungmu turut saya rawat untuk kamu, sambil saya percaya bahwa di sana ada saya. Tolong pelihara juga sudut eksklusif saya.

Dan kemudian kamu setuju menikah.

Sudah tentu saya berterima kasih atas kesediaan yang lekas ini. Seperti kamu, saya pun tak pernah tahu ada statistik tentang tingkat kelanggengan suatu perkawinan berdasarkan lama masa pacaran. Apakah panjang masa pacaran mampu menjamin keawetan sebuah perkawinan? Apakah masa yang singkat berpeluang besar untuk kegagalannya? Saya belum pernah baca data yang meyakinkan.

Yang saya tahu: ada pasangan yang perkawinannya langgeng sampai akhir hayat, setelah melalui masa pacaran yang singkat (atau tak pernah melewatinya sama sekali karena dijodohkan orangtua); ada pasangan yang usia perkawinannya jauh lebih singkat daripada masa pacarannya, sampai para tamu resepsi pernikahan mereka mengeluh: belum habis letih dari menghadiri pestanya, perkawinannya sudah hancur.

Apakah peristiwa-peristiwa seperti itu bagian dari rahasia alam, satu dari misteri kehidupan yang tak terhingga banyaknya? Saya tak tahu. Bahkan, seperti berulang kali saya katakan, saya tak pernah tahu alasan lengkap mengapa saya mencintai kamu.

-baca selanjutnya->

Categories: Artikel | Tags: , , , , , , , , , , | Leave a comment

I miss..

i miss

the walk,
the footpath,
the air,
the wind,
the breeze,
the breathe,
the blue sky,
the trees,
the green,
the grass,
the hills,
the stones,

the silence..

Categories: Masih Puisiku | Tags: , , , , | Leave a comment

Try–Nelly Furtado

All I know
Is everything is not as it’s sold
but the more I grow the less I know
And I have lived so many lives
Though I’m not old
And the more I see, the less I grow
The fewer the seeds the more I sow

Then I see you standing there
Wanting more from me
And all I can do is try
Then I see you standing there
Wanting more from me
And all I can do is try


I wish I hadn’t seen all of the realness
And all the real people are really not real at all
The more I learn, the more I learn
The more I cry, the more I cry
As I say goodbye to the way of life
I thought I had designed for me

Then I see you standing there
Wanting more from me
And all I can do is try
Then I see you standing there
I’m all I’ll ever be
But all I can do is try
Try

All of the moments that already passed
We’ll try to go back and make them last
All of the things we want each other to be
We never will be
And that’s wonderful, and that’s life
And that’s you, baby
This is me, baby
And we are, we are, we are, we are
Free
In our love
We are free in our love

Categories: Musik | Tags: , , , , , , , , | Leave a comment

Kalah..Lagi..

Atap stadion yang melingkar
di antara debar gemuruh ribuan harap dan peluh
semua kembali ke titik awal lingkaran
ke titik awal permulaan

malam itu
kita kalah lagi..
dari lawan yang itu lagi

(November 2011)

Categories: Jejak Foto | Tags: , , , | 1 Comment

debu, duka, dan sebagai-bagainya

(Ulasan Buku)

Judul:  debu, duka, dsb. : Sebuah Pertimbangan Anti-Theodise
Penulis: Goenawan Mohamad
142 Halaman
Penerbit: Tempo, 2011 | PT. Grafitipers
ISBN : 139786029964349

Sesungguhnya ini buku tipis yang “tebal” dan cukup berat bacanya. Menguras habis seluruh cadangan wawasan dan pemahaman sang diri yang cuma secuil ini. Tapi bahasanya memang keren sih, khas seorang Goenawan Mohamad (GM). Banyak yang bisa digali, wawasan, percaturan pandangan, perbenturan pendapat berbagai macam orang dari mulai teolog, filsuf, sastrawan, tokoh politik dunia dan seterusnya, yang ada di buku tipis yang tak lebih dari 142 halaman ini.

Jelas ini buku yang tidak mudah dicerna. Seperti yang dibilang penulisnya sendiri di kalimat akhir kata pembukanya, (buku ini ditulis) dengan harapan: Anda akan sabar membacanya.

Ternyata, kau tau, butuh lebih dari kesabaran untuk menyelesaikan buku ini. Kesabaran dan hal-hal yang tak selesai, if you know what i mean..

Dimulai dari kisah tsunami yang menghantam Aceh, 26 Desember 2004 lalu, GM membahas persoalan “keadilan Tuhan”, mempertanyakan kehadiran duka, malapetaka, bencana, musibah, dan sebagai-bagainya dalam bentuk fragmen-fragmen renungan yang berkembang ke arah yang luas, pelik, mendalam, dan sekali lagi, tidak mudah dicerna dan dipahami.

Buku ini intinya membahas tentang “Tuhan” dan persoalan “keadilan Tuhan”. Risau yang tak pernah punya tepi, sampai akhir zaman, sampai kita tak di sini lagi.

Kata “theodise” sendiri berasal dari ‘theos’ dan ‘dike’, “Tuhan” dan “keadilan”.

Tapi di sini kita bisa bertanya, haruskah Tuhan memberi keadilan?

Manusia boleh berharap dan mengharap. Sementara harapan, kata Vaclav Havel, “bukanlah keyakinan bahwa hal-ikhwal akan berjalan baik, melainkan rasa pasti bahwa ada sesuatu yang bukan hanya omong kosong dalam semua ini, apa pun yang akan terjadi akhirnya” (h.34)

Pembicaraan berkembang dari mulai Chairil Anwar, Amir Hamzah, terus merambat ke Al-Ghazali, Zizek, Voltaire, Leibniz, Rousseau, Marx, Goethe, Nietzsche, meluas ke Camus, Hamlet, Freud, Kafka, Heidegger, Foucault, Kant, Derrida, dan seterusnya dan sebagainya. Helicon, Caligula, Faust, Sisyphus, Arjuna, Karna, ikut hadir meramaikan perbincangan. Debu, duka, dan seterusnya dan sebagai-bagainya.

***

Pernah suatu kali, dulu, saya bertanya-tanya, mana yang lebih dulu: Tuhan atau Sang Waktu? Jawabannya konon sederhana, tapi tidak mudah: Tuhan ada di luar waktu, di luar ruang, di luar kata-kata. Tapi kemudian bagaimana Dia akan disebut, dibahas, jika Ia yang diperbincangkan berada di luar segalanya?

Tuhan Maha-Akbar tapi manusia mungkin tak berbahagia. (h. 11)

Dia adalah “apa yang tidak bisa diucapkan dalam kata-kata, tetapi sesuatu yang dengannya kata-kata diucapkan…Apa yang tak bisa dipikirkan oleh akal, tetapi sesuatu yang dengannya akal berpikir” (Sejarah Tuhan, Karen Amstrong, h. 61-62)

Pada akhirnya, apa yang bisa diperbuat debu di hadapan tuhan dari segala tuhan?

(Pandasurya, Desember 2011)

Categories: Buku | Tags: , , , , , , , | Leave a comment

Sedikit Cerita dari Bienal Sastra Salihara

Di sebuah metropolitan yang katanya setiap orang hanya untuk dirinya sendiri, masihkah ada ruang untuk merayakan sastra? Masihkah sastra diberi tempat?

Gerimis seperti mengikis jalanan Jakarta malam itu.

Saya sedang di tengah perjalanan menuju Salihara. Maksud hati ingin menghadiri acara pementasan musik dan pembacaan puisi di Komunitas Salihara yang mengadakan Bienal Sastra 2011. Jalanan ke arah Pasar Minggu menuju lokasi Salihara seperti biasanya selalu padat tak bersahabat. Selagi di daerah Cipete, Jakarta Selatan, hujan semakin menderas.

Di tengah jalanan basah yang disinari lampu kendaraan di tengah kemacetan, cahaya seperti berpendar dalam tangkapan mata, dan sesuatu melintas di pikiran tanpa permisi, apa yang bisa menjadi inspirasi di tempat semacam ini selain sebersit puisi?

Malam itu Bienal Sastra Salihara menggelar pentas musik dan pembacaan puisi yang menghadirkan Ivan Nestorman, seorang pemusik asal Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur, dan 2 orang penyair, Zaim Rofiqi dan Esha Tegar Putra. Acara ini juga diadakan bertepatan untuk merayakan hari Sumpah Pemuda 28 Oktober. Rencananya acara berlangsung di teater atap Salihara. Namun tersebab malam masih dipeluk hujan maka acara digelar di serambi Salihara.

Sekitar pukul 9 malam acara baru dimulai. Setelah Ayu Utami selaku Direktur Bienal Sastra menyampaikan sedikit kata sambutan, Ivan Nestorman dan bandnya naik ke pentas dan menyapa para hadirin, “Malam baik,” katanya ramah. Sosok Ivan Nestorman yang berambut gimbal sepintas mengingatkan orang pada musisi terkenal Bob Marley. “’Malam baik’ mungkin adalah terjemahan langsung dari ‘goodnight’”, ujar Ivan. Hadirin tersenyum. Lalu lagu Benggong pun mengawang di udara. Sebuah lagu yang unik, indah, bernuansa tropis, etnis. Itu lagu pembuka yang dimainkan Ivan dan bandnya malam itu. Ia mengatakan bahwa lagu Benggong adalah lagu rakyat Manggarai, Flores, yang bercerita tentang perpisahan ketika seorang anak pergi jauh untuk merantau meninggalkan orangtua dan kampung halamannya.

Setelah beberapa lagu acara diselingi dengan pembacaan puisi dari 2 penyair, Zaim Rofiqi dan Esha Tegar Putra. Lalu Ivan dan bandnya kembali ke pentas membawakan musikalisasi puisi “Malam Laut” karya penyair Toto Sudarto Bachtiar, “Surat Kertas Hijau” dan “Dia dan Aku” dari Sitor Situmorang. “Saya orang gunung yang suka laut,” kata Ivan setelah membawakan “Malam Laut” dengan cukup memukau. Selanjutnya beberapa lagu dari Lamalera, Lembata pun mengalun indah. Penonton tampak cukup menikmati sajian musikalisasi puisi yang menghangatkan suasana malam itu.

***

Sejak 8-29 Oktober 2011 lalu Komunitas Salihara mengadakan Bienal Sastra 2011 bertema ‘Klasik Nan Asyik’ di Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Acara ini dibuka dengan diskusi buku Lenka pada 8 Oktober dan diakhiri dengan Adu Puisi dan Pementasan Musik dari Gugun and Blues Shelter pada 29 Oktober lalu.

Rangkaian acara yang menampilkan sejumlah sastrawan, penyair, pemusik ini antara lain berisi pembacaan karya sastra, bincang sastra, ceramah dan diskusi, musikalisasi puisi, dan pementasan musik. Dan acara-acara itu berlangsung gratis tanpa dipungut biaya.

Bienal sastra yang diadakan Komunitas Utan Kayu-Salihara ini berlangsung dua tahunan dan tahun ini adalah yang ke-6. Acara ini bermula dari ide sejumlah sastrawan di Komunitas Utan Kayu yang pernah mengikuti festival sastra di Belanda. Dari sanalah muncul ide untuk mengadakan hal serupa di tanah air untuk memperkaya khazanah kesusastraan melalui unsur-unsur Nusantara maupun dunia.

***

Malam itu saya cukup menikmati dan terkesan dengan acara Bienal Sastra Salihara. Merayakan dan menikmati sastra bagi sebagian orang di Jakarta mungkin juga adalah bagian dari ritual jeda dari penat. Semacam pelepasan dan penghiburan diri dari segala kesumpekan, kepenatan hidup di kota seperti Jakarta.

Dibanding hiburan atau acara lain yang itu-itu saja, rasanya Jakarta tak banyak menyuguhkan acara semacam Bienal Sastra Salihara ini. Meskipun acara ini gratis, menyajikan dan menikmati sastra mungkin juga sebentuk kemewahan di tengah orang-orang yang sehari-harinya hanya sempat memikirkan bagaimana bisa makan hari ini. Sementara sebagian yang lain yang perutnya sudah kenyang dan nyaman, mungkin berpikir selintas tentang sastra pun tidak sempat.

Tapi kita tau, di luar sana masih ada orang-orang yang mau menyempatkan waktu untuk sekadar menikmati puisi karena mereka tau, seperti kata penyair Goenawan Mohamad, sajak adalah sesuatu yang berharga justru karena tak ditanya untuk apa. Guna puisi adalah hadir dengan tanpa guna.

Dan malam itu puisi seolah menegaskan kembali perannya di dunia yang sibuk ini: untuk menghayati keadaan dengan segala ketakbergunaannya. Mungkin tak sepenuhnya tanpa guna. Karena sastra bagaimanapun adalah hasil karya kreatif manusia yang bisa memberi getar pada hidup yang seringkali tak terduga.

Ya, malam itu malam baik dengan sajian musik bernuansa tropis dan sajak-sajak yang menikam pikiran dalam segelas kopi berisi perang, cinta, kuasa, & pengkhianatan.

Dan malam itu lagu Ivan Nestorman masih juga terngiang-ngiang,

“Di Lamalera orang berdansa dengan lautan..

Di Lamalera Lembata orang bercanda dengan lautan. Pemuda menari di pucuk gelombang..”

(Pandasurya, November 2011)

Categories: Artikel, Tulisanku | Tags: , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Informasi

Hiduplah dengan cukup informasi, katanya
atau hari-hari ini, hiduplah dengan memilih informasi
tapi benarkah kita bisa benar-benar memilih informasi
seperti memilih menu sarapan pagi?

Lalu zaman menegaskan, informasi datang dan pergi
secepat kedipan mata dan ketukan jari
Hidup berawal dari mimpi, kata lirik lagu itu
Sementara waktu adalah kepastian untuk mati
Dan pertanyaan ‘kenapa’ takkan pernah punya tepi

(Okt’11)


Categories: Masih Puisiku | Tags: , , | Leave a comment

Blog at WordPress.com. Theme: Adventure Journal by Contexture International.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.