Sekuntum

Dan waktu pun seperti kembali lagi, an
seperti obrolan hari kemarin, hari ini, dan hari nanti
Darinya pun kau mendengar suara yang sama

Ini kegalauan yang sama tentang Indonesia.
Indonesianya, Indonesiamu,
mungkin Indonesiaku.

Ini cerita lama tentang mereka yang masih punya sekuntum harap
tapi tak bisa banyak berbuat.
memang cerita lama, an
bukan barang baru

dan mungkin yang diperlukan memang bukan berbuat banyak.
tapi sedikit saja, tak apa, tapi terus dan terus
tanpa henti
meski tak selamanya tanpa lelah
dan air mata

Indonesiamu masih di sini, an
sampai kau merasa paling bodoh sendiri

(Feb’12)

Categories: Masih Puisiku | Tags: , , , , , , | Leave a comment

Yang Pudar

Demi informasi,

Tolong
jangan paksa kami menghalalkan segala cara,
melakukan hal yang negatif, tercela, tidak terpuji, bahkan keji,
melanggar kode etik,
dan nurani.

kami masih percaya ini adalah bagian dari tugas mulia.
atau kepercayaan itu mulai pudar dari diri kami sendiri?

(Feb’12)

Categories: Masih Puisiku | Tags: , , , | Leave a comment

Pengintai

Yang selalu mengintai di tepi jalan

Pernah ada masanya
ketika kau merasakan
Kematian itu dekat, an
lebih dekat dari ujung nafasmu sendiri
kau sudah melihatnya sendiri
dan merasakan tanda-tandanya

(Feb’12)

Pernah ada masanya
ketika kau merasakan

Categories: Masih Puisiku | Tags: , | Leave a comment

Mereka akan bilang..

Dan kau pun bertanya,
Seperti apa rasanya jadi orang yang pertama-tama tau
akan ada dampak buruk bagi orang banyak?

kawan-kawan di luar sana,
mereka akan bilang,
mereka akan selalu bilang,
hati-hati kalau mengusik orang-orang yang selalu berpikir
semuanya bisa dibeli dengan uang..

(Jan-Feb’12)

Categories: Masih Puisiku | Tags: , | Leave a comment

Feel like..

Feel like you wanna be alone somewhere
in the night,
on a bridge, looking down the street
full of cars, people, the city light
and with your own thoughts..

(Jan’12)

Categories: Masih Puisiku | Leave a comment

Lily Pad

Lily Pad never complains.
Lily Pad never wants to know what’s going on.
Put a plant on top of Lily Pad, he won’t say a thing.
Does he have startling opinions or shocking secrets? Nobody knows.
Lily Pad keeps it all inside.

Categories: Kutipan | Tags: | Leave a comment

You Can Find Me Here..

1.    Kosong-Pure Saturday
“Temukan diri dalam dunia tak terikira lelah.
Semua mati dan menghilang terlalu pagi..”

2.    Malaikat-The Milo
“Dan malaikat pun enggan menolehku.. Dan malaikat pun pergi dariku..”

3.    Eight Flew Over, One Was Destroyed-Mew
“Is a nice way I think to wake up with you
It’s a nice way I’m separated from you..”

4.    Silence-Pure Saturday
“Through I tried to face it
They’ll never be exist
I just won’t stay here and wait
I just want, I just want to die..”

5.    For All The Dreams That Wings Could Fly-The Milo
“The more of you remain in this hollow place..
until the more of you reveal
and no one cannot see this because behind my face
is it as real as life could be..”

6.    Don’t Worry for being Alone-The Milo
“Lights guide you through the emptiness
There’s something you could found
In the dark..”

7.    Daun dan Ranting Menuju Surga-The Milo
“Hadapi hidup yang remuk  hapus semua kenangan yang kelam
Semua nyata hati pun terluka..”

8.    Kekal-Homogenic
“It so dark in here
No I can`t see alight
Take all the fires on me..”

9.    Romantic Purple-Homogenic cover
“It’s the darkness in you that makes me so pure
The image of you has been burn into my eyes
I won’t say goodbye cause i never there..”

10.    That I Would be Good-Alanis Morissette
“That i would be good even if i did nothing.
That i would be loved even when i numb myself..”

Categories: Musik | Tags: , , , , , , | Leave a comment

Sekilas Riwayat Buku

Saat gen-gen kita tidak bisa menyimpan semua informasi yang diperlukan untuk mempertahankan hidup, secara perlahan-lahan kita membangun wahana itu. Tibalah saatnya, mungkin kira-kira sepuluh ribu tahun yang lalu, kita perlu tahu lebih banyak dari yang bisa disimpan di dalam otak. Maka kita belajar menyimpan informasi di luar badan kita. Sepanjang pengetahuan kita, kitalah satu-satunya spesies di atas planet yang telah menemukan memori komunal yang tidak disimpan di gen atau otak kita. Gudang ingatan ini kemudian kita sebut perpustakaan.

Buku dibuat dari pohon. Bentuknya berupa kumpulan lembaran-lembaran yang luwes (masih disebut daun) yang diberi cetakan tulisan tangan pendek-pendek dari pigmen warna gelap. Dengan membacanya, Anda akan mendengar suara orang lain—mungkin sudah meninggal ribuan tahun lalu. Terpisah dalam jangka waktu beribu-ribu tahun, pengarang berbicara dengan diam-diam dan jelas di dalam kepala Anda, langsung kepada Anda. Menulis mungkin adalah penemuan manusia terbesar, yang mengikat manusia bersama-sama, menyatukan rakyat dari masa-masa yang terpisah jauh, yang tidak akan pernah saling bertemu. Buku menghancurkan kungkungan waktu, bukti bahwa manusia bisa melakukan keajaiban.

Pengarang-pengarang kuno menulis di atas lempengan tanah liat. Tulisan-tulisan berbentuk baji (huruf paku), salah satu nenek moyang abjad Latin, diciptakan di Timur Dekat kira-kira 5000 tahun yang lalu. Tujuannya adalah untuk merekam data: pembelian gandum, penjualan tanah, kemenangan sang raja, kedudukan bintang-bintang dan doa-doa kepada para dewa. Selama ribuan tahun, tulisan dipahatkan pada tanah liat dan batu, diukirkan pada lilin lebah, kulit pohon atau kulit hewan, dilukiskan pada bamboo, lontar atau sutra—tetapi selalu hanya menghasilkan satu eksemplar atau, untuk pahatan di monumen-monumen, hanya untuk pembaca yang terbatas jumlahnya. Kemudian di antara abad kedua dan keenam, di Cina ditemukan kertas, tinta dan teknik pencetakan menggunakan batang-batang kayu berukir. Hal ini membuat salinan semakin banyak bisa dibuat dan dibagikan. Gagasan ini memerlukan waktu seribu tahun untuk bisa mencapai Eropa yang jauh dan terbelakang. Kemudian, buku-buku segera dicetak di seluruh dunia. Sebelum mesin cetak ditemukan, kira-kira sekitar tahun 1.450, buku yang ada di seluruh Eropa berjumlah tidak lebih dari beberapa puluh ribu. Semua buku tadi ditulis tangan, jumlahnya kira-kira sebanyak buku yang ada di Cina tahun 100 SM, dan sepersepuluh dari yang ada di Perpustakaan Besar Iskandariyah. Lima puluh tahun kemudian, sekitar tahun 1500, jumlah buku sudah berpuluh juta buah. Kesempatan belajar muncul untuk siapa pun yang bisa membaca. Keajaiban memperbesar ke mana-mana.

Perpustakaan terbesar di dunia mengandung jutaan volume, setara dengan seratus triliun bit informasi dalam kata-kata dan mungkin seribu miliar bit dalam gambar-gambar. Ini adalah sepuluh ribu kali lebih banyak daripada informasi yang berada di dalam gen kita, dan sepuluh kali jumlah informasi yang berada di dalam otak kita. Jika saya dapat menyelesaikan membaca sebuah buku dalam seminggu, maka dalam seluruh hidup saya, saya hanya akan mampu membaca beberapa ribu buku saja, kira-kira sepersepuluh persen isi perpustakaan terbesar yang ada pada zaman kita. Kiatnya adalah bagaimana memilih buku-buku yang perlu dibaca. Informasi yanga ada di dalam buku tidak diprogramkan saat kelahiran, tetapi selalu berubah, ditambah dengan peristiwa-peristiwa, diadaptasikan dengan dunia. Sekarang sudah dua puluh tiga abad sejak pendirian Perpustakaan Alexandria. Jika tidak ada buku, tidak ada catatan tertulis, coba pikir betapa banyak waktu dua puluh tiga abad ini. Bila dalam satu abad ada empat generasi, maka dalam dua puluh tiga abad ada hampir seratus generasi dilewatkan manusia. Jika informasi hanya bisa dilewatkan dari mulut ke mulut, betapa kecilnya pengetahuan kita tentang masa lalu, betapa lambatnya laju pengetahuan kita!

Buku-buku bisa membawa kita mengarungi perjalanan menembus waktu, untuk menimba kebijaksanaan nenek moyang kita. Perpustakaan menghubungkan kita dengan wawasan dan pengetahuan, yang diperoleh dengan susah payah dari Alam, dari para pemikir besar. Mereka bersama dengan guru-guru terbaik dari seluruh planet dan sepanjang sejarah, mengajari kita tanpa lelah, dan memberi kita inspirasi agar setiap orang bisa ikut menyumbang untuk pengetahuan umat manusia. Perpustakaan umum hidupnya bergantung pada sumbangan-sumbangan sukarela. Saya kira kesejahteraan kultur kita, kedalaman pengetahuan kita tentang dasar-dasar kebudayaan, dan perhatian kita ke masa depan, bisa dilihat dari cara kita membantu lestarinya perpustakaan.

(dikutip dari “Kosmos”, Carl Sagan, h. 364-367)

Categories: Buku, Kutipan | Tags: , , , | Leave a comment

Diri Sendiri

Kekuasaan manusia adalah kekuasaan menghadapi diri sendiri yang tak sepenuhnya dipahaminya sendiri, manusia lain yang tak selamanya dapat dimengerti, masyarakat yang tak pernah selesai terbentuk, semesta hidup yang tak kunjung tertangkap oleh dalil.

(Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 7, hlm. 307)

Categories: Kutipan | Tags: , , , , | Leave a comment

Fur Fathia by Hamid Basyaib

disalin dari sini

Fathia yang baik,

Pernah kamu bertanya, berapa persen cinta saya pada kamu?

“Tidak sampai seratus persen”.

Kamu mengeluh, dan beberapa hari kemudian mengajukan pertanyaan serupa. Jawaban saya tetap – bukan yang ingin kamu dengar. Di kesempatan lain kamu mengulangi “tekanan politik” dengan mengajukan pertanyaan sama.

Saya tahu kamu lebih suka saya berbohong – dengan mendayu-dayu, dengan mengutip lagu pop atau ungkapan klise remaja di sinetron yang sedang merayu gadis pujaannya, meski tak sampai berlutut atau menyembul dari balik pohon sawo seperti jagoan Bollywood. Karena kali itu saya tak ingin berdusta, maka saya tetap menjawab “tidak seratus persen”. Saya hanya bisa menambahkan bahwa cinta saya – sepanjang yang mampu saya rasakan saat itu – pasti besar, cukup besar untuk membangun sebuah landasan kebersamaan hidup kita. Dan saya pun tidak mengharap kamu mencintai saya seratus persen.

Sampai akhirnya kamu mengerti, dan tiba pada kesimpulan gemilang: “Saya setuju. Saya tahu, kalau cinta kamu seratus persen, kamu tak punya ruang lagi untuk berpikir.”

Dan tanpa ruang sisa itu, cinta akan rutin, dan karenanya membosankan, setidaknya tak mungkin lagi mekar – tak mungkin tumbuh ke berbagai arah yang barangkali tak terduga, tapi lebih kaya. Dan setiap hal yang setinggi seratus persen hanya punya satu arah perubahan: menurun, berkurang, mengalami erosi. Mungkin akhirnya mati.

Cinta memang tak pernah bunuh-diri. Ia biasanya mati karena dibunuh oleh satu atau kedua pelaku yang terlibat dalam percintaan itu.

Kamu seolah memetik buah dari pohon kearifan yang sama dengan yang mengilhami Kahlil Gibran, yang menyarankan supaya dalam kebersamaan tetap harus ada ruang bagi kedua pihak. Kamu menginsafi, perkawinan bukanlah penunggalan dua pribadi, tapi kesepakatan antara dua orang yang punya sejarah personal masing-masing untuk memandang ke satu arah yang sama. Keduanya tak perlu, tak boleh, melebur menyatu.

Sebab harga termurah dari peleburan itu adalah hilangnya diri kita, berubah menjadi bukan siapa-siapa, menjadi bukan apa-apa. Biarlah sudut terpencil di bilik jantungmu turut saya rawat untuk kamu, sambil saya percaya bahwa di sana ada saya. Tolong pelihara juga sudut eksklusif saya.

Dan kemudian kamu setuju menikah.

Sudah tentu saya berterima kasih atas kesediaan yang lekas ini. Seperti kamu, saya pun tak pernah tahu ada statistik tentang tingkat kelanggengan suatu perkawinan berdasarkan lama masa pacaran. Apakah panjang masa pacaran mampu menjamin keawetan sebuah perkawinan? Apakah masa yang singkat berpeluang besar untuk kegagalannya? Saya belum pernah baca data yang meyakinkan.

Yang saya tahu: ada pasangan yang perkawinannya langgeng sampai akhir hayat, setelah melalui masa pacaran yang singkat (atau tak pernah melewatinya sama sekali karena dijodohkan orangtua); ada pasangan yang usia perkawinannya jauh lebih singkat daripada masa pacarannya, sampai para tamu resepsi pernikahan mereka mengeluh: belum habis letih dari menghadiri pestanya, perkawinannya sudah hancur.

Apakah peristiwa-peristiwa seperti itu bagian dari rahasia alam, satu dari misteri kehidupan yang tak terhingga banyaknya? Saya tak tahu. Bahkan, seperti berulang kali saya katakan, saya tak pernah tahu alasan lengkap mengapa saya mencintai kamu.

-baca selanjutnya->

Categories: Artikel | Tags: , , , , , , , , , , | Leave a comment

Blog at WordPress.com. Theme: Adventure Journal by Contexture International.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.